Mentan: stok gabah Jateng surplus dan aman

Mentan: stok gabah Jateng surplus dan aman

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kanan) secara simbolis memanen padi varietas Ciherang Musim Tanam I (MT I) menggunakan mesin 'combine harvester' saat kunjungan kerja di areal persawahan Desa Sari, Gajah, Demak, Jawa Tengah, Selasa (23/1/2018). Kunjungan Mentan tersebut dalam rangka memantau kesiapan panen raya Musim Tanam I (MT I) di sejumlah wilayah penghasil padi untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani. (ANTARA /Aji Styawan)

Sragen (ANTARA News) - Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimistis dengan menggunakan teknologi pertanian lebih efisien, stok gabah di wilayah Jawa Tengah mengalami surplus dan aman.

Berdasarkan data di Jateng terdapat 300 ribu hektare lahan pertanian yang dapat menghasilan lebih kurang 900 ribu ton beras, atau sekira 1,8 juta ton gabah kering panen, kata Mentan di sela acara tanam dan panen padi di Desa Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, Rabu.

Menurut Mentan, dengan hasil panen sebanyak tersebut dibanding kebutuhan pangan di Jateng hanya 260 ribu ton, maka mengalami surplus dan stok aman.

"Namun, kami tugasnya sekarang menyerap hasil panen gabah petani bersama Bulog pada tahun ini, sebanyak 2,2 juta ton hingga Juni mendatang. Jika itu terjadi stok kita aman," kata Mentan.

Menyinggung soal teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan), Mentan menjelaskan pihaknya akan terus mengembangkan dengan harapan produksinya dapat berjalan efisien. Jika digunakan lebih efisien naik, hasil 2.000 persen, termasuk menaikkan indeks pertanaman dengan bibit unggul menaikkan 30 persen.

Mentan mengatakan soal pertanian sekarang makin membaik contohnya Indonesia selama dua tahun ini, tidak impor beras, justru terjadi surplus. Meski pada 2016 sempat terjadi iklim ekstrem.


Sragen tolak impor beras

Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno menegaskan Sragen merupakan daerah penyangga pangan nasional nomor dua setelah Cilacap di Jateng telah menolak adanya impor beras. Impor beras dinilai akan berimbas pada anjloknya harga gabah yang dapat merugikan petani lokal.

"Kami menolak kebijakan impor beras, apalagi ini sudah memasuki masa panen," kata Dedy menegaskan.

Dedy Endriyatno mengatakan lahan sawah seluas 486 hektare di daerah Desa Plumbungan Sragen yang siap panen, dan panen raya sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Sragen selalu surplus pangan hingga sekarang.

Namun, Dedy mengatakan lahan pertanian di Sragen harus berkurang seluas 220 hektare untuk digunakan pembangunan nasional jalan tol, sehingga tentunga akan mengurangi produkstifitas gabah.

Jumlah lahan produksi yang terkena proyek tol itu, seluruhnya lahan irigasi teknis, sehingga petani mampu tiga kali masa panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni mengatakan jumlah luas tanam di Sragen mencapai 41.000 hektare dengan produktifitas rata-rata hingga 8 ton gabah kering panen per hektare, dan diperkirakan produksi mencapai 240 ribu ton gabah kering panen.

"Kami target produksi gabah di Sragen pada 2018 sebanyak 640 ribu ton dengan luas panen 101 ribu hektare. Puncak panen di Sragen diperkirakaan awal Pebruari bulan depan diperkirakan mencapai hampir 30.000 ton gabah kering panen. Jenis tanaman padi ciherang dan IR 64 rata-rata sama 8 ton per hektare," kata eka Rini.

Pewarta:
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar