Kepala Bappenas bicara devisa terkait wacana masuknya kampus asing

Kepala Bappenas bicara devisa terkait wacana masuknya kampus asing

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (ANTARA FOTO/Audy Alwi)

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro berbicara mengenai devisa ketika menanggapi wacana masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia.

"Sekarang begini deh, pernah tidak dihitung berapa besar devisa kita itu, mahasiswa kita yang mampu sekolah di luar negeri, itu sangat besar kok. Padahal kita bicara devisa, kita inginnya selain ada yang keluar kita juga ingin yang masuk," kata Bambang usai membuka Forum Konsultasi Publik di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu.

Wacana pemberian izin operasi perguruan tinggi dari luar negeri di Indonesia diinisiasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai bagian dari upaya meningkatkan persaingan di antara perguruan-perguruan tinggi di Tanah Air.

Menanggapi wacana tersebut, Presiden Joko Widodo sebelumnya meminta menteri terkait terlebih dulu membicarakannya dengan para rektor perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta.

"Semuanya diajak bicara dulu. Kalau tanpa diberi kompetitor sudah berubah ya enggak usah. Tapi kalau kita tunggu enggak berubah-ubah, ya kita beri," kata Presiden saat membuka Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) 2018 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (15/2).

Menurut Bambang, untuk mengurangi banyaknya devisa keluar karena mahasiswa kuliah di luar negeri, kualitas perguruan tinggi di dalam negeri harus ditingkatkan dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat.

"Kalau bisa yang keluar itu bisa ditahan, salah satunya dengan pendidikan berkualitas. Kalau di dalam negeri kan butuh waktu. Solusinya, untuk memperketat, kerja sama dengan perguruan tinggi dari luar negeri," ujar Bambang.

Presiden Jokowi sebelumnya juga mengingatkan bahwa tidak semua universitas perlu menjadi berkelas dunia, tapi semua universitas perlu menjadi relevan, perlu berkontribusi kepada masyarakat dan sekitarnya.

Ia memberi contoh, universitas di daerah pesisir atau kepulauan harus bisa memberikan nilai lebih bagi lingkungan sekitarnya melalui inovasi budidaya ikan, pengolahan hasil laut, dan pelestarian budaya bahari; universitas di daerah pertanian antara lain berkontribusi dengan inovasi pengelolaan lahan, teknologi peningkatan hasil produksi, dan pengelolaan sumber air.

Sementara kepada perguruan tinggi besar yang sudah masuk dalam arena kompetisi global, Presiden meminta mereka bersaing dengan mengembangkan program studi atau departemen atau fakultas yang sesuai dengan lanskap ekonomi global.

Baca juga: Pemerintah buka peluang operasi kampus asing di Indonesia

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar