BPBD: siaga bencana di Bojonegoro berakhir Maret

BPBD: siaga bencana di Bojonegoro berakhir Maret

Sejumlah petugas dengan perahu karet membawa sembako yang akan didistribusikan bagi korban banjir luapan Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (24/2/2018). (ANTARA /Aguk Sudarmojo)

Bojonegoro (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan penetapan status siaga bencana di daerahnya yang dimulai sejak 1 Januari, akan berakhir akhir Maret, karena curah hujan sudah menurun.

"Penetapan status siaga bencana akan berakhir akhir Maret," kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bojonegoro MZ. Budi Mulyono, di Bojonegoro, Sabtu.

Ia menyebutkan penetapan status bencana dikeluarkan Bupati Bojonegoro Suyoto, dengan mempertimbangan curah hujan yang tinggi yang berpotensi menimbulkan bencana banjir luapan Bengawan Solo, banjir bandang dan tanah longsor.

Sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangploso, Malang, lanjut dia, curah hujan Maret tertinggi mencapai 401 milimete,r berpotensi menimbulkan bencana banjir, juga tanah longsor.

"Tapi prakiraan curah hujan selama April sudah turun tidak berpotensi menimbulkan bencana," ujarnya.

Menurut data yang dihimpun BPBD, kerugian yang ditimbulkan akibat tiga kali banjir luapan Bengawan Solo di daerah setempat termasuk dua kali kejadian banjir bandang mencapai Rp13,1 miliar.

Banjir luapan Bengawan Solo terjadi dalam kurun waktu Januari sampai 14 Maret, melanda 96 desa di 12 kecamatan.

Daerah yang dilanda banjir luapan Bengawan Solo, antara lain, Kecamatan Kota, Dander, Balen, Kanor dan Baureno, dan kecamatan lainnya. Banjir dari sungai terpanjang di Jawa itu merendam tanaman padi seluas 1.582 hektare dan palawija 299 hektare.

Warga terdampak luapan Bengawan Solo sebanyak 3.165 kepala keluarga (KK). Selain itu, banjir juga merendam jalan paving di desa sepanjang 41,3 kilometer dan jalan kabupaten sekitar 7 kilometer.

Selain itu banjir bandang terjadi dua kali dalam kurun waktu Januari hingga 22 Februari, yang melanda 26 desa di Kecamatan Temayang, Gondang, Dander, Balen, Bubulan dan Sukosewu. Banjir merusak tanaman padi seluas 363 hektare, dan palawija 59 hektare selain merusak sejumlah jembatan desa.

Warga terdampak di daerah banjir bandang tercatat 4.254 KK. Selain itu banjir bandang juga merendam jalan desa.

Sementara itu, data di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Wilayah Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro menyebutkan ketinggian air di taman Bengawan Solo (TBS) di Bojonegoro saat ini jauh di bawah siaga banjir hanya 8,60 meter.

"Kondisi Bengawan Solo di hulu, Jawa Tengah, juga hilir Jawa Timur, aman tidak terjadi banjir," ujar Petugas Posko UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro Budi Indro menambahkan.
 

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Talud Sungai Gandong longsor, BBWS Bengawan Solo pasang bronjong

Komentar