Laporan dari Beijing

ARTIKEL - Jejak utusan Nabi Muhammad di Tiongkok

ARTIKEL - Jejak utusan Nabi Muhammad di Tiongkok

Sejumlah umat Islam Cina saling bercengkrama di halaman Masjid Niujie di Beijing, Cina, Rabu (3/5/2018). Masjid tersebut merupakan masjid terbesar di Beijing yang menjadi titik awal masuknya Islam di daratan Cina. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru) (Zabur Karuru)

(ANTARA News) - Islam sudah masuk ke Tiongkok pada zaman Nabi Muhammad SAW. Itu fakta sejarah.

Hal itu terungkap dari jejak kedatangan penyebar Islam ke Negeri Panda itu pada kurun 618-626 Masehi, sedangkan masa hidup Nabi Muhammad SAW pada kurun 571-634 Masehi.

Penyebar Islam di Tiongkok itu berjumlah empat utusan Nabi Muhammad SAW yang berdakwah ke Tiongkok, yakni seorang utusan di Guangzhou, seorang utusan di Yangzhou, dan dua utusan di Quanzhou.

Jejak keempat utusan Nabi Muhammad SAW itu dapat ditelusuri di "Quanzhou Islamic Culture Exhibit" yang berada dalam kompleks "Quanzhou Maritime Museum" di Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok.

"Ada ratusan batu berisi catatan tertulis perkembangan Islam, Kristen, dan Hindu yang tersimpan di museum kami," ujar petugas museum itu, Sun Wanlin.

Ketika menerima kedatangan media dari Bali (Indonesia) ke museum itu pada 4 Mei 2018, ia menunjukkan beberapa batu berisi catatan tertulis yang mencatat masuknya Islam ke Tiongkok.

"Ratusan batu yang tersimpan di museum yang dibangun pada tahun 1991 itu merupakan temuan saat Pemerintah Provinsi Fujian membongkar tembok Kota Quanzhou," katanya.

Ratusan batu berisi catatan masuknya Islam ke kota itu tidak hanya tulisan Tiongkok, namun juga tulisan Arab yang merupakan potongan ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi.

Museum itu juga menyimpan foto dan replika makam dari dua utusan Nabi Muhammad SAW yang wafat di Kota Quanzhou, bahkan replika makam itu membuktikan kedua utusan nabi itu dimakamkan dalam posisi berdekatan.

Secara umum, jejak sejarah yang tersimpan di museum itu berawal dari hubungan perdagangan antara Tiongkok dengan sejumlah negara, karena itu museum itu dinamai "Quanzhou Maritime Museum".

Karena itu, museum itu juga menyimpan kapal atau perahu pada awal tahun 600-an Masehi, kemudian sejumlah peninggalan sejarah, termasuk batu dan beberapa foto penting tentang lokasi bersejarah.

Hal menarik dari museum itu adalah "display" jejak sejarah dalam bentuk video yang mengisahkan kedatangan kapal/perahu dari dan ke Kota Quanzhou pada awal tahun 600-an itu.

Meski bercerita masa lalu, "Quanzhou Maritime Museum" di Provinsi Fujian bisa menjadi museum yang menarik, karena unsur "now" (kekinian) yang ada di dalamnya, seperti video, foto, dan bukti-bukti sejarah yang dibuat dalam "display" 3-dimensi.

Sejarah-Wisata-Religi

Penataan "sejarah" yang menarik tua-muda dengan "display" yang patut ditiru Indonesia itu juga ada di museum lainnya, seperti museum tata kota di Provinsi Fujian dan Provinsi Zhejiang.

Tidak hanya museum, Gunung Putuo di sebuah pulau kecil perairan Kota Zhoushan, Provinsi Zhejiang, juga dikunjungi ribuan orang setiap harinya untuk melakukan wisata religi yang menyimpan banyak cerita rakyat di dalamnya.

"Untuk mencapai pulau seluas sekitar 12 kilometer persegi dengan ikon patung Dewi Kwan Im itu, pengunjung menumpang kapal ferry dari Pelabuhan Wugongzhi menuju Pelabuhan Putuoshan dengan jarak tempuh sekitar 10 menit," kata pengamat budaya dan bahasa Indonesia Prof Cai Jincheng MA.

Ketika mendampingi kunjungan awak media dari Bali ke Tiongkok (2-11 Mei 2018), mantan Ketua Pusat Studi Indonesia di Universitas Guangdong, China, itu menjelaskan pulau dengan sekitar 43 kuil itu juga memiliki "cerita rakyat" yang menarik orang untuk berkunjung.

Cerita rakyat yang terpatri dalam sebuah ukiran batu di dinding Kuil Dewi Kwan Im serta batu bertuliskan huruf Tiongkok di depan kuil yang sama itu mengisahkan seorang biksu dari Jepang dan India yang percaya kepada Dewi Kwan Im.

Pulau Putuo dihuni sekitar 1.000 biksu dan sekitar 10 ribu orang penduduk lokal serta pendatang yang bekerja di restoran, hotel dan menjadi pedagang, sehingga pulau itu juga menarik bagi wisatawan tua dan muda.

Lain halnya di Provinsi Fujian, sejumlah bangunan bersejarah di Pulau Gulangyu, Kota Xiamen, Provinsi Fujian yang pernah menjadi jajahan dari 5-8 negara juga ditata menarik bagi wisatawan tua-muda.

Bahkan, salah satu pulau yang bila dikelilingi hanya seluas 1,8 kilometer persegi itu juga menjadi objek foto "pra-wedding" bagi pasangan muda Tiongkok yang akan menikah.

Gulangyu adalah salah satu dari tempat pertama masuknya warga asing di era kolonial. Pulau ini juga dikenal pula sebagai Pulau Musik, karena warga Filipina di zaman itu membawa alat musik, terutama piano. Tahun 2000, museum piano dibangun di pulau itu.

Jejak warga asing di pulau yang juga disebut "Kulangsu" (deburan ombak) itu tampak dari desain bangunan yang berarsitektur Victoria.

Paduan sejarah dengan sentuhan modern untuk tempat berlibur orang kaya di Tiongkok serta sajian kuliner dan cenderamata khas menjadikan Gulangyu dikunjungi 50.000-an wisatawan/hari.

Nuansa sejarah yang dipadukan dengan konsep wisata modern serta sentuhan religi itu membuktikan masyarakat Tiongkok juga tidak sedikit yang taat beragama, meski ada juga yang abangan atau bahkan tidak beragama.

"Bahkan, jejak kedatangan utusan Nabi Muhammad SAW ke Tiongkok pada kurun 618-626 Masehi itu menunjukkan Islam datang lebih dulu ke Tiongkok daripada Indonesia, bahkan sebagian penyebar Islam di Indonesia juga berasal dari Tiongkok," kata pengamat budaya/bahasa Indonesia, Prof Gunawan --nama Indonesia dari Prof Cai Jincheng.
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar