Korsel berupaya jadi penengah pertemuan Korut-AS

Korsel berupaya jadi penengah pertemuan Korut-AS

Dokumen foto Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri upacara penyambutan di desa gencatan senjata Panmunjeom di dalam zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, Korea Selatan, Jumat (27/4/2018). (Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters)

... kami merasa kedua pihak memiliki sikap yang serius untuk tetap pada pendirian masing-masing."
Seoul (ANTARA News) - Korea Selatan (Korsel) sedang berupaya untuk menjembatani kesenjangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) karena mereka tampaknya memiliki "semacam perbedaan dalam sikap" menjelang Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) yang sudah direncanakan, kata seorang pejabat di Kantor Kepresidenan Korea Selatan, Kamis.

Pernyataan itu muncul setelah pihak Pyongyang, Korut, pada Rabu mengancam akan keluar dari KTT pertemuan Pemimpin Korut Kim Jong-Un dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada 12 Juni 2018, dengan mengatakan tidak akan hadir jika Washington terus menuntut secara sepihak untuk meninggalkan persenjataan nuklirnya.

Baca juga: AS tuntut Korut kirim hulu ledak nuklir ke luar negara

Pejabat Kantor Kepresidenan Korsel atau Gedung Biru mengatakan bahwa Presiden Moon Jae-in bermaksud untuk lebih aktif berperan sebagai mediator di berbagai saluran antara negaranya, AS dan Korea Utara.

Trump akan menjadi tuan rumah dalam pertemuan dengan Presiden Korsel Moon Jae-in pada pertemuan puncak di Gedung Putih pada 22 Mei 2018, dan keduanya diharapkan untuk membahas KTT yang akan datang antara Trump dan Kim Jong-Un.

Baca juga: Gedung Putih "masih berharap" pertemuan Kim-Trump jadi

Gedung Biru bermaksud untuk menyampaikan ke AS tentang posisi dan sikap Korut secara benar melalui KTT pada 22 Mei itu, dan juga menyampaikan posisi AS kepada Korut, sehingga membantu menjembatani kesenjangan pada posisi mereka, kata pejabat itu.

"Melihat pernyataan dan tanggapan yang diumumkan dari Korea Utara dan AS, kami merasa kedua pihak memiliki sikap yang serius untuk tetap pada pendirian masing-masing," kata pejabat itu.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis, Gedung Biru menyampaikan bahwa Korsel berniat melanjutkan pembicaraan dengan Korut untuk mengadakan pembicaraan tingkat tinggi yang sebelumnya dibatalkan Korut pada hari Rabu, dengan menyalahkan latihan militer AS-Korsel.

Baca juga: Korea Utara juga tunda pertemuan tingkat menteri dengan Korsel

Sementara itu, diplomat tinggi Pemerintah China, Wang Yi, mengatakan bahwa tindakan Korut yang telah mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea harus diakui, dan semua pihak lainnya, terutama AS, harus menghargai berbagai kesempatan untuk perdamaian.

Baca juga: Pengawas uji nuklir PBB siap kunjungi Korut

Pewarta:
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar