Laporan dari San Francisco

Sembilan donor bantu masyarakat adat pulihkan hutan

Sembilan donor bantu masyarakat adat pulihkan hutan

Presiden Ford Foundation Daren Walker mengumumkan komitmen pendanaan 459 juta dolar AS hingga 2022 oleh sembilan yayasan filantropi dunia untuk mendukung masyarakat adat dan komunitas lokal melindungi, merestorasi hingga memperluas hutan untuk pengendalian perubahan iklim menjelang pelaksanaan Global Climate Action Summit (GCAS) 2018 di San Francisco, Selasa (11/9/2018). Pada saat yang sama 18 yayasan filantropi dunia juga mengkampanyekan mengatasi deforestasi dengan mendukung pengakuan masyarakat adat. (Antara/Virna P Setyorini.)

San Francisco, Amerika Serikat (ANTARA News) - Sembilan lembaga donor dunia menjanjikan bantuan dan dana sampai 459 juta dolar AS hingga 2022 untuk mendukung upaya perlindungan dan pemulihan hutan serta antisipasi dampak perubahan iklim, termasuk yang dilakukan oleh masyarakat adat dan komunitas tradisional.

ClimateWorks Foundation, David and Lucile Packard Foundation, Doris Duke Charitable Foundation, Ford Foundation, Gordon and Betty Moore Foundation, John D. and Catherine T. MacArthur Foundation, Margaret A. Cargill Philanthropies, Mulago Foundation, dan The Rockefeller Foundation menyampaikan komitmen mereka untuk mendanai upaya perlindungan hutan dan hak masyarakat adat.

Presiden Ford Foundation Daren Walker di sela acara Gubernur untuk Iklim dan Hutan dalam rangkaian Global Climate Action Summit (GCAS) 2018 di San Francisco, Selasa, mengatakan komitmen ini menandai langkah maju kolaborasi filantropi menghadapi krisis akibat perubahan iklim.

"Solusi iklim yang mengakar untuk hutan dan penggunaan lahan sangat penting guna memenuhi sasaran pengendalian iklim global saat ini. Dan mendukung masyarakat adat menjaga hutan menjadi satu cara efektif," katanya.

"Kami menyerukan kepada donor lain untuk bergabung dengan kami dalam upaya mendesak untuk melindungi hutan, hak masyarakat adat, tanah dan iklim," lanjutnya.

Saat mengumumkan komitmen pendanaan sembilan yayasan filantropi dunia, Daren menyebutkan bahwa setidaknya 18 yayasan filantropi dunia menyatakan dukungan bagi upaya penyelamatan hutan, hak masyarakat adat dan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan sebagai solusi pengendalian dampak perubahan iklim.

Pelapor Khusus PBB tentang Hak Masyarakat Adat Victoria Tauli-Corpuz mengatakan bahwa di seluruh dunia, tanah milik masyarakat adat dan komunitas lokal menyimpan hampir 300 miliar metrik ton karbon, atau setara dengan lebih dari 30 kali emisi energi global pada 2017.

"Jadi jika hak-hak sebagai masyarakat adat diakui, kita dapat terus melindungi tanah-tanah ini untuk generasi yang akan datang," kata Victoria.

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi mengatakan yang paling penting adalah bagaimana komitmen pendanaan dari yayasan-yayasan donor itu benar-benar sampai ke masyarakat adat.

"Karena sering kali dana-dana seperti ini nyangkut entah di mana," kata Rukka.

Menteri Lingkungan Hidup Norwegia Ola Elvestuen juga menyampaikan komitmen untuk mendukung masyarakat adat mengurangi deforestasi, khususnya di Indonesia dan Brasil.


Baca juga: AMAN bawa isu masyarakat adat ke pertemuan iklim global
 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar