Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (level II) atau tidak ada peningkatan status, meski erupsi sebanyak 576 kali pada Sabtu (18/8/2018) dengan radius zona berbahaya di dalam radius 2 km. (Foto BNPB)

Bandarlampung (ANTARA News) - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung sepanjang Selasa (23/10) hingga Rabu dini hari mengalami 336 kali kegempaan letusan dan teramati 43 kali letusan dengan tinggi kolom abu 200-600 meter di atas puncaknya.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam rilis meneruskan laporan Windi Cahya Untung, petugas Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau diterima di Bandarlampung, Rabu pagi, menyebutkan visual malam dari CCTV teramati sinar api dan lontaran material pijar.

Laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada periode pengamatan Selasa, 23 Oktober 2018, pukul 00.00 sampai dengan 24.00 WIB, menunjukkan adanya aktivitas kegempaan Letusan 336 kali, amplitudo 40-58 mm, durasi 34-162 detik. Vulkanik Dangkal 9 kali, amplitudo 6-12 mm, durasi 7-12 detik. Vulkanik Dalam 7 kali, amplitudo 35-48 mm, S-P 1-15 detik, durasi 15-21 detik. Tremor Menerus amplitudo 2-30 mm (dominan 5 mm).

Gunung api di dalam laut di Selat Sunda dengan ketinggian 338 meter dari permukaan laut ini, sepanjang pengamatan cuaca cerah, berawan, dan mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara, dan timur laut, dan timur. Suhu udara 25-33 derajat Celsius, kelembapan udara 58-89 persen, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Visual gunung jelas, kabut 0-I, hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 25-50 meter di atas puncak kawah. Terdengar suara dentuman dan dirasakan getaran dengan intensitas lemah hingga kuat di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (kaca dan pintu pos bergetar).

Kemudian, pada periode pengamatan Rabu, 24 oktober 2018, pukul 00.00 sampai dengan 06.00 WIB, seperti dilaporkan oleh Jumono, petugas Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, menunjukkan aktivitas kegempaan Letusan 39 kali, amplitudo 40-58 mm, durasi 31-59 detik. Vulkanik Dangkal 9 kali, amplitudo 7-40 mm, durasi 10-14 detik. Vulkanik Dalam 4 kali, amplitudo 42-50 mm, S-P 1,2-2 detik, durasi 8-20 detik. Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 5-27 mm (dominan 5 mm).

Cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah ke arah utara. Suhu udara 24-25 derajat Celsius dan kelembapan udara 81-100 persen.

Visual gunung kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

Teramati dari CCTV sinar api dan lontaran lava pijar, terdengar suara dentuman, getaran kaca yang dirasakan lemah-kuat di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.

Sebelumnya, dalam laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan Selasa, 23 Oktober 2018, pukul 18.00 sampai dengan 24.00 WIB disampaikan Windi Cahya Untung, petugas Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, menyebutkan aktivitas kegempaan Letusan 89 kali, amplitudo 45-58 mm, durasi 34-87 detik. Vulkanik Dalam 3 kali, amplitudo 35-48 mm, S-P 1,2-1,5 detik, durasi 15-20 detik. Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 2-22 mm (dominan 5 mm).

Sepanjang pengamatan saat itu, cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 25-29 derajat Celsius dan kelembapan udara 76-87 persen.

Baca juga: Gunung Anak Krakatau lontarkan lava pijar

Baca juga: Gunung Anak Krakatau meletus 348 kali

Baca juga: Gunung Anak Krakatau alami 49 kegempaan letusan

Baca juga: Gunung Anak Krakatau alami 63 kegempaan letusan


Visual gunung kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

Visual malam dari CCTV teramati sinar api dan lontaran material pijar. Terdengar suara dentuman dan dirasakan getaran dengan intensitas lemah hingga kuat di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (kaca dan pintu pos bergetar).

Kesimpulan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau Level II (Waspada), sehingga direkomendasikan masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar