Hampir separuh ibu hamil di Indonesia alami anemia

Hampir separuh ibu hamil di Indonesia alami anemia

PENCEGAHAN POTENSI KEMATIAN IBU HAMIL Petugas Surveilans Kesehatan Ibu Anak (Gasurkes KIA) memeriksa tekanan darah salah satu ibu hamil di Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (25/10/2018). Pemerintah Kota Semarang menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan keliling secara gratis dalam program Gerakan Ibu Anak Sehat (GIAT) dengan inovasi deteksi dini terhadap permasalahan kesehatan serta pencegahan potensi kematian ibu hamil dan janinnya. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)

Jakarta,  (ANTARA News) - Hampir separuh atau sebanyak 48,9 persen ibu hamil di Indonesia mengalami anemia atau kekurangan darah, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018.

Berdasarkan data Riskesdas 2018 yang dirilis di Jakarta, Jumat, persentase ibu hamil yang mengalami anemia tersebut meningkat dibandingkan hasil Riskesdas tahun 2013 yaitu sebesar 37,1 persen.

Dari data tahun 2018, jumlah ibu hamil yang mengalami anemia paling banyak pada usia 15-24 tahun sebesar 84,6 persen, usia 25-34 tahun sebesar 33,7 persen, usia 35-44 tahun sebesar 33,6 persen, dan usia 45-54 tahun sebesar 24 persen.

Sementara data perempuan usia subur yang kurang energi kronis justru menunjukkan tren positif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Proporsi risiko kurang energi kronis pada perempuan usia subur menurun dibanding tahun 2013. 

Yaitu dari 24,2 persen pada perempuan usia subur yang hamil di 2013 menjadi 17,3 persen di 2018. Selain itu untuk perempuan usia subur tidak hamil 20,8 persen di 2013 menurun jadi 14,5 persen pada 2018.

Prevalensi anemia dan risiko kurang energi kronis pada perempuan usia subur tersebut sangat memengaruhi kondisi kesehatan anak pada saat dilahirkan. Kedua hal tersebut termasuk beberapa hal yang berpotensi terjadinya kekerdilan pada anak dilihat dari berat dan tinggi badan saat lahir.

Proporsi berat badan lahir bayi secara ideal ialah tidak kurang dari 2500 gram dan tinggi tidak kurang dari 48 centimeter.

Berdasarkan Riskesdas 2018, proporsi bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram pada anak umur 0-59 bulan mencapai 6,2 persen. Angka tersebut telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 yang ditargetkan turun sampai 8 persen.

Namun perlu diketahui angka 6,2 persen tersebut didapat dari 56,6 persen bayi usia 0-59 bulan yang memiliki buku catatan Kesehatan Ibu Anak (KIA).

Data Riskesdas 2018 juga menunjukkan bayi dengan proporsi berat badan lahir di antara 2500-3999 gram sudah mencapai 90,1 persen.

Sementara itu data bayi lahir dengan tinggi badan di bawah ideal, yakni di bawah 48 centimeter, sedikit meningkat dibandingkan lima tahun lalu. Yaitu 20,2 persen pada 2013, meningkat menjadi 22,7 persen pada 2018.

Jika merunut lagi pada masa pertumbuhan anak sejak baru lahir hingga usia lima tahun, angka kekerdilan atau status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2 persen di 2013, menjadi 30,8 persen pada 2018.

Baca juga: Menkes ingatkan ibu hamil jaga asupan gizi
Baca juga: Menkes: jumlah ibu hamil positif HIV meningkat dua kali lipat

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Menteri PPPA jamin layanan kesehatan ibu & anak selama pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar