"Politik Genderuwo", cara Jokowi ingatkan berpolitik harus gembira

"Politik Genderuwo", cara Jokowi ingatkan berpolitik harus gembira

Anggota Komisi II DPR Fraksi PPP, Achmad Baidowi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Presiden mengingatkan bahwa kita berpolitik harus penuh kegembiraan
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP,  Achmad Baidowi menilai pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyinggung "Politik Genderuwo", adalah cara Presiden mengingatkan agar masyarakat harus bergembira dalam berpolitik bukan menakut-nakuti.

"Presiden mengingatkan bahwa kita berpolitik harus penuh kegembiraan, tidak perlu menakut-nakuti. Genderuwo itu kan simbol hantu dan bagi masyarakat, itu menakutkan," kata Baidowi atau Awiek di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan Jokowi ingin mengingatkan pada semua bahwa berpolitik dalam sistem demokrasi harus penuh kegembiraan dan gagasan, bukan justru menakut-nakuti masyarakat yang disimbolkan dengan genderuwo.

Menurut dia, selama ini kalau ada propaganda yang menakut-nakuti masyarakat harus dihentikan karena kontra-produktif dengan makna berpolitik dalam demokrasi.

"Kami harap propaganda seperti itu tidak ada lagi, apalagi dalam konteks menakut-nakuti masyarakat misalnya politik intimidatif, berita bohong dan fitnah yang bisa membuat masyarakat panik dan takut," ujarnya.

Awiek menjelaskan Jokowi selalu menyampaikan kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf agar selalu menekankan pada politik yang bersih, bermartabat, menjual gagasan dan selalu bersikap santun.

Menurut dia, Jokowi juga mengingatkan agar TKN Jokowi-Ma'ruf berbicara sesuai fakta dan tidak menyudutkan bahkan menakut-nakuti masyarakat dengan hal-hal yang mengerikan seperti negara Indonesia akan bubar.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan politik dan pesta demokrasi itu sudah semestinya disambut dan dihinggapi rasa gembira oleh masyarakat Indonesia, bukan untuk menakut-nakuti.

Presiden melihat bahwa sekarang ini banyak politikus yang pandai memengaruhi masyarakat, namun yang amat disayangkan olehnya, para pelaku politik cenderung tidak memandang etika berpolitik dan keberadaban.

"Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan dan kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat emang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, masyarakat akan menjadi ragu-ragu," kata Presiden saat acara penyerahan sertifikat hak atas tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal di Gelanggang Olah Raga Tri Sanja, Kabupaten Tegal, Jumat (9/11).

Presiden memiliki satu istilah khusus untuk menggambarkan perilaku berpolitik tak beretika yang menebar ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Berangkat dari mitos Jawa mengenai makhluk halus, dirinya menyebut hal itu sebagai "Politik Genderuwo", politik yang menakut-nakuti.

Baca juga: Ace Hasan: Pernyataan Jokowi ingatkan semua pihak
Baca juga: Karding: Pernyataan 'politik genderuwo' untuk semua orang


 

Pewarta:
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar