Ombudsman imbau Kementan sosialisasikan kebijakan peningkatan cadangan pangan

Ombudsman imbau Kementan sosialisasikan kebijakan peningkatan cadangan pangan

Mentan Panen Raya Jagung Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kedua kanan) bersama Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (kanan) meninjau lokasi panen raya jagung di Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Kamis (25/8/2016). . (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Lebih baik fokus untuk memperhatikan kebutuhan jagung untuk peternak
Jakarta,  (ANTARA News) - Ombudsman mengimbau kepada Kementerian Pertanian untuk dapat memberikan sosialisasi kebijakan peningkatan cadangan pangan terkait permasalahan impor. 

"Lebih baik fokus untuk memperhatikan kebutuhan jagung untuk peternak. Juga fokus sosialisasikan dengan baik bahwa impor untuk meningkatkan cadangan, bukan untuk mengganggu petani," ujar Komisioner Ombudsman RI, Alamsyah Saragih, dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Jumat. 
 
Dikatakan, meskipun banyak pihak yang menolak impor bahan pangan, namun hal itu harus disesuaikan dengan kondisi fakta dilapangan. Walaupun berulang kali Kementan menyatakan bahwa saat ini surplus produksi jagung, namun harga dilapangan tinggi dan para peternak sulit mendapatkan jagung untuk kebutuhan pakan ternak.

"Sederhananya begini, yang penting kan harga. Meski banyak penolakan, walaupun dibilang surplus, tidak ada gunanya kalau barangnya tidak ada,” tegasnya. 

Di kesempatan berbeda, Ketua Apindo Bidang Peternakan dan Perikanan Anton J Supit mempertanyakan klaim surplus jagung oleh Kementerian Pertanian dan rencana impor jagung yang menjadi polemik. 

“Ada beberapa pertanyaan besar terkait klaim surplus jagung oleh Kementan, kalau mereka bilang ada surplus 12,98 juta ton, tapi berada di wilayah yang bukan sentra peternakan, atau luar Jawa, ini banyak pertanyaan harus dijawab oleh mereka,” ujarnya. 

Ia juga mempertanyakan, 12 juta ton jagung kenapa tidak dijual ke pasaran. “Kalau petani punya jagung 12 juta ton, dengan harga pasaran misalnya Rp4.500 per kilogram, artinya uang petani mengendap Rp58 triliun. Apakah petani tidak butuh uang? Untuk kebutuhannya sehari-hari dan operasional?,” kata dia. 

Di sisi lain, anggota Komisi IV DPR Darori Wonodipuro mengatakan, dewan akan menanyakan kebenaran data jagung kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam saat Rapat Dengar Pendapat (RDP). 

"Saya akan menanyakan tentang impor jagung ini. Sebab, saya juga ditanya oleh masyarakat katanya surplus jagung, tapi kita impor 100 ribu ton, ini mana yang benar," kata Darori. 

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, impor jagung yang dilakukan Mentri Amran disebabnya tingginya harga komoditas ini di pasaran. 

"Dia baiknya, melakukan mengecek di lapangan. Apakah ini memang produksinya yang buruk, atau disimpan oleh tengkulak," katanya. 

Darori meminta Satgas Pangan untuk menyelidik data surplus produksi jagung sebanyak 12,9 juta ton. Upaya untuk mengetahui, kebenaran data produksi jagung dalam negeri. ***3***

Baca juga: Peternak layer minta Kementan perhatikan kebutuhan jagung untuk pakan
Baca juga: Impor jagung dibuka, Kementan tegaskan produksi tetap surplus

Baca juga: Peternak terdampak tingginya harga jagung pakan
 

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar