counter

Perhutani mengklarifikasi penemuan lahan pembibitan ganja

Perhutani mengklarifikasi penemuan lahan pembibitan ganja

Arsip - Pemusnahan Ladang Ganja Siap Panen Polisi berjalan menuju ladang tanaman ganja siap panen di Desa Pulo, Kawasan Pegunungan Seulawah, Aceh Besar, Aceh, Rabu (19/8). Polisi memusnahkan tanaman ganja di lahan seluas 34 hektar yang tersebar di delapan titik kawasan pegunungan itu, sementara pemilik tanaman ganja belum berhasil ditangkap. (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Bogor (ANTARA News) - Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor, Jawa Barat, menyampaikan klarifikasi atas pemberitaan penemuan lahan pembibitan ganja di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Puncak, Bogor.

Tempat pembibitan ganja itu ditegaskan bukanlah lahan Perhutani.

"Setelah dilakukan pengukuran titik koordinat dan `overlay` ke dalam peta peta kawasan hutan yang dikelola Perhutani KPH Bogor, lokasi penemuan tersebut berada di luar kawasan yang dikelola Perhutani," kata Jerry dari Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor, Jawa Barat, di Bogor, Senin.

Setelah pemberitaan penemuan lahan pembibitan ganja di kawasan Cisarua, Puncak oleh anggota Polres Bogor Kabupaten, pihaknya menindaklanjuti temuan tersebut dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Olah TKP dilakukan dengan mengukur titik koordinat pada lokasi yang diduga tempat pembibitan ganja tersebut.

"Kami melakukan olah TKP Sabtu (1/12) kemarin. Setelah berkoordinasi dengan `stakeholder` di wilayah KPH Bogor,," ujarnya.?

Menurutnya, langkah ini dilakukan agar pemberitaan yang telah beredar di beberapa media massa dapat diketahui kebenarannya secara akurat dan objektif.

Setelah dilakukan pengukuran titik koordinat dan "overlay" ke dalam peta kawasan hutan yang dikelola Perhutani KPH Bogor lokasinya berada pada koordinat S 6?42?21.3552" E 106?58?51.1896". Lokasi tersebut berada di luar kawasan yang dikelola Perum Perhutani.

Hasil pengukuran yang dilakukan oleh jajaran Perhutani diinformasikan dan dikoordinasikan kepada segenap Muspida Kabupaten Bogor untuk mendapatkan klarifikasi pemberitaan sebagaimana surat Administratur/KKPH Bogor Nomor 544/058.2/Kam/Bgr/Divre Janten tanggal 1 Desember 2018 Perihal Klarifikasi Terhadap Lokasi Pembibitan Ganja.

Direktur Operasi Perhutani Hari Priyanto menyampaikan, lahan yang dimaksud bukanlah kawasan hutan yang dikelola Perhutani. Perhutani selalu mengecek wilayah kerjanya secara rutin sehingga pemanfaatan lahan hutan diluar fungsinya dan tidak bertanggung jawab dapat diantisipasi oleh jajaran Perhutani di Lapangan.

"Patroli secara rutin yang dilakukan petugas Perhutani di lapangan sudah sangat efektif memantau wilayah kerjanya," kata Hari.

Pada Jumat (30/11) lalu Kepolisian Resor Bogor Kabupaten Bogor mengungkap keberadaan lahan pembibitan ganja di Desa Tugu Selatan, Cisaru, Kabupaten Bogor.

Temuan ini terungkap dalam Operasi Antik Lodaya 2018. Dari beberapa pengungkapan kasus, di antaranya lahan pembibitan narkotika golongan satu tersebut di lahan seluas 300 meter persegi.

Lahan tersebut tersembunyi di kaki Gunung Mas Desa Tugu Selatan. Dari penggungkapan tersebut, petugas menangkap dua pria berinisial RH (47) dan AS (29).

Dalam laporan Kepolisian, kedua pelaku diduga menyalahgunakan lahan milik Perhutani untuk dijadikan penanaman pohon ganja.

Polisi juga menyita barang bukti di antaranya 122 bungkus tanah di dalam plastik tanam yang telah ditaburkan bibit pohon ganja, tiga batang pohon ganja berukuran sedang di dalam pot, tujuh kecambah ganja di dalam pot, 11 batang pohon ganja masing-masing dalam plastik polybag dan lima roll plastik, pupuk urea, serta peralatan pertanian.

Tidak hanya ganja, Satuan Narkoba Polres Bogor Kabupaten juga mengungkap keberadaan lahan katinon seluas 50 meter persegi di lahan Perhutani di tengah hutan kaki Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Cisaru.
Baca juga: Ditemukan tujuh hektare lahan ganja di Sumatera Utara
Baca juga: Polres Nias Selatan temukan satu hektare lahan ganja
Baca juga: TNI-Polisi temukan dua hektare lahan ganja di Nagan Raya
Baca juga: Polisi temukan ladang ganja 54 hektare di Aceh

 

Pewarta:
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar