counter

Proses pembuatan skenario film komedi ternyata tidak selucu lawakannya

Proses pembuatan skenario film komedi ternyata tidak selucu lawakannya

Artis pemeran film Milly dan Mamet, Dennis Adhiswara (kedua kanan), Ardit Erwandha (kiri), Resti Surtika (kedua kiri) dan Muhadkly Acho (kanan) pada sesi foto saat melakukan kunjungan ke Museum Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di Jakarta, Selasa, (4/12/2018). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film Milly dan Mamet yang akan tayang secara serentak di bioskop pada 20 Desember mendatang. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.)

Memang seserius itu bikin bercandaan,
Jakarta (ANTARA News) - Menguji tingkat kelucuan, memberikan perspektif baru terhadap lelucon serta mengoreksi diksi pada skenario lawak adalah beberapa tugas dari konsultan komedi dalam sebuah film.

Ternyata, membuat hal yang lucu harus seserius itu.

Dalam film "Milly & Mamet", Muhadkly Acho atau yang akrab disapa Acho bertindak sebagai konsultan komedi.

Tanggung jawab yang diembannya cukup besar, yakni memastikan bahwa komedi yang disampaikan dalam film tersebut dapat dimengerti penonton dan bisa mengundang tawa.

Penggunaan konsultan komedi pada film-film garapan Ernest Prakasa sudah menjadi keharusan. Sebab selaku sutradara, penulis skenario sekaligus pemain, Ernest juga memerlukan pandangan orang lain agar komedi yang disampaikan tidak terkesan garing.

"Memang seserius itu bikin bercandaan," kata Acho kepada Antara dalam media visit film "Milly & Mamet" di Jakarta, Selasa (4/12).

"Orang lihatnya komedi doang ngapain serius, ini hal paling serius yang dilakukan selama ini, bikin penonton bisa tertawa bukan pekerjaan mudah dan bukan pekerjaan satu orang. Kadang penulis skenario ngerasa lucu, pas dicoba ke aktor ternyata enggak kena, harus ganti diksi atau timing tempo supaya pas,"  katanya.

Menurut komedian tunggal ini, membuat film komedi lebih susah dan rumit dibandingkan dengan drama. Harus ada rumusan serta racikan yang pas agar tidak berlebihan ataupun kurang greget dalam leluconnya.

"Masalah bikin komedi bukan sesimpel bikin drama. Kalau drama, kurang sampai emosionalnya, orang enggak akan marah kayak bilang dramanya kurang. Pas ditanya kalau enggak dapet paling bilang biasa aja. Kalau komedi, komedinya enggaknya enggak lucu, orang bisa kesal atau marah karena lihat scene komedi enggak lucu, bisa "ih garing" makanya harus hati-hati banget," jelas Acho.

Untuk mematangkan skenario, film ini membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 bulan. Bahkan, perbaikan terus dilakukan sampai mendapat formula yang tepat agar ketika syuting tidak ada lagi improvisasi.

"Reading, latihan dan dilihat hasilnya, joke yang ini kena di aktor yang mana. Dilihat mana yang kurang, mana dialog yang harus ada perbaikan, diksinya yang lebih komedi dikembangkan terus sampai draft terakhir. Tujuannya ketika syuting enggak ada lagi improve, kalau ada ide dari aktor bisa dikeluarkan saat reading," ujar Acho.

"Milly & Mamet" merupakan film bergenre drama komedi arahan Ernest Prakasa. Film ini adalah spin-off dari "Ada Apa Dengan Cinta" yang menceritakan tentang kehidupan Milly dan Mamet.

Film tersebut dibintangi oleh Dennis Adhiswara, Sissy Priscillia, Julie Estelle, Eva Celia, serta penampilan khusus dari Genk Cinta. "Milly & Mamet" akan tayang di bioskop mulai 20 Desember 2018.


Baca juga: Bedanya Milly-Mamet dengan Cinta-Rangga

Baca juga: Alasan Ernest rilis film saat akhir tahun

Baca juga: "AADC" sangat mungkin dibikin universenya

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar