counter

Telaah

Umat Islam dan bela negara

Umat Islam dan bela negara

Ilustrasi. Sejumlah Prajurit TNI memperagakan keahlian seni bela diri saat di Plaza Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/09)

Umat Islam dengan jumlah populasi terbesar di negeri ini idealnya dapat menjadi agen-agen perekat yang menyatukan bangsa ini..
Oleh Destika Cahyana SP MSc *)

Ir Soekarno, Presiden pertama Indonesia, pernah menyatakan bahwa perjuangan generasinya lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuangan generasi penerusnya akan lebih sulit karena bakal melawan bangsa sendiri.

Ucapan Soekarno relevan direnungkan pada 19 Desember 2018, saat kita memperingati Hari Bela Negara. Hari yang ditetapkan untuk memperingati Soekarno dan Hatta saat memberi mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara.

Keduanya menandatangani mandat sesaat sebelum ditangkap Belanda 70 tahun silam. Berdasarkan mandat itulah sejumlah tokoh pimpinan republik yang berada di Sumatera Barat membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Ketua PDRI. Dengan pemerintahan sementara itu Indonesia terhindar dari kekosongan kekuasaan sehingga tetap berdiri kokoh hingga saat ini tanpa pernah jatuh ke tangan penjajah pascakemerdekaan.

Namun, sejarah juga membuktikan perang saudara secara sporadis terjadi di Indonesia sejak dulu hingga kini. Sebut saja konflik dengan PKI, DITII, PRRI, PERMESTA, GAM, OPM, serta yang paling menyedihkan adalah lepasnya Timor Leste dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Belum lagi konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang sering terjadi seolah menegaskan ramalan Soekarno benar-benar menjadi kenyataan. Beruntung Indonesia dapat melewati itu semua dengan resolusi konflik yang berbeda-beda untuk mengatasinya.

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), umat Islam berjumlah 87,18% dari total populasi 237.641.334 jiwa.

Kini jumlah tersebut telah mencapai 265-juta jiwa. Dengan populasi umat Islam yang terbesar itu, menurut Prof. Azyumardi Azra, Guru Besar Agama Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Jakarta, kemajuan Indonesia adalah kemajuan umat Islam.

Demikian pula sebaliknya, kehancuran Indonesia juga otomatis adalah kehancuran umat Islam. Berdasarkan logika tersebut umat Islam memiliki peran penting untuk menopang dan menyangga eksistensi dan kemajuan Bangsa Indonesia.

Kembali pada pernyataan Soekarno bahwa musuh Indonesia pascakemerdekaan adalah bangsanya sendiri menjadi sangat mengerikan mengingat umat Islam adalah populasi yang terbesar. Lalu siapakah musuh tersebut?

Tentu musuh yang Soekarno maksud bukanlah suku, agama, ras, atau antargolongan tertentu, tetapi sejumlah perilaku anti kemerdekaan. Yaitu perilaku yang berlawanan dengan semangat kemerdekaan seperti tertuang pada pembukaan Undang Undang Dasar 1945: perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dua spirit kemerdekaan tersebut secara lebih lanjut pada pembukaan UUD 1945 dijabarkan pada sila-sila yang kemudian populer disebut Pancasila yaitu ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian ringkasnya musuh Bangsa Indonesia di era pascakemerdekaan adalah setiap anak bangsa yang perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, serta keadilan. Sementara pelakunya dapat berasal dari suku, agama, ras, maupun antargolongan mana saja sepanjang perilaku mereka bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.

Di sisi lain Pancasila dapat juga dipahami sebagai konsensus bersama semua komponen anak bangsa untuk menjadi sebuah bangsa bernama Indonesia.

Dengan demikian umat Islam sebagai penopang eksistensi dan kemajuan Bangsa Indonesia harus benar-benar yakin untuk menerima Pancasila tanpa meragukannya atau bahkan mempertentangkannya dengan ajaran Islam.

Menurut Yudi Latief, cendikiawan muslim Indonesia, Islam mengajarkan umatnya agar "naik menuju kalimat sawa" yang menjadi titik temu bersama. Disebut titik temu karena kalimat sawa merupakan nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh manusia tak peduli berasal dari suku, agama, ras, dan antargolongan mana saja. Pada konteks Indonesia, menurut Yudi Latief, kalimat sawa adalah Pancasila.

Pada momentum bela negara yang diperingati hari ini, maka membela negara pascakemerdekaan adalah mewujudkan `Pancasila yang merupakan kalimat sawa` sebagai perekat bangsa ini agar tetap eksis dan maju menghadapi perubahan zaman serta mencegah bangsa Indonesia dari kehancuran yang disebabkan dari dalam maupun dari luar.

Umat Islam dengan jumlah populasi terbesar di negeri ini idealnya dapat menjadi agen-agen perekat yang menyatukan bangsa ini.

Menurut Prof Azyumardi Azra, peran perekat tersebut dapat dijalani bila umat Islam di Indonesia berperilaku sebagai Islam wasathiyah. Yaitu tipologi Islam pertengahan yang tidak kaku sekaligus tidak longgar karena berada di pertengahan.

Islam wasathiyah tidak akan terseret pada kutub ideologi komunis, kutub ideologi kapitalis, bahkan kutub ideologi khilafah. Islam seperti inilah yang dapat berperan menjadi connecting agent (agen penghubung) dan binding agent (agen pengikat) di tengah bangsa Indonesia yang majemuk dari Sabang hingga Merauke.

Islam wasathiyah pula Islam yang meyakini ungkapan "Cinta Tanah Air sebagian daripada Iman" atau ungkapan "sesungguhnya membantu Tanah Air adalah salah satu kewajiban individu".

Dua ungkapan tersebut terdapat pada pelajaran peribahasa atau kata-kata mutiara Bahasa Arab (mahfudzat) yang diajarkan para ulama sejak dulu kala kepada para santri di pesantren maupun kepada warga kampung di pengajian yang digelar mingguan.

Di pendidikan tradisional tersebut mahfudzat dipelajari dan dihapal paralel atau bahkan sebelum menghapal Al Quran dan Hadist.

Mereka begitu lekat dengan ungkapan itu seperti mereka akrab dengan ungkapan "man jadda, wajada" yang bermakna "siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil".

Dengan kata lain umat Islam sejatinya sejak dulu kala berperan besar dalam membela negara. Selamat Hari Bela Negara!

*) Penulis adalah Ketua Litbang DPP GEMA Mathla'ul Anwar

Baca juga: Banyak cara wujudkan aksi bela negara
Baca juga: Milenial diharapkan ikut sejukkan suasana jelang Pilpres 2019
Baca juga: Kemendagri serukan Pemda laksanakan rencana aksi bela negara


 

Pewarta: -
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Siswa asal Sulsel perdalam wawasan kebangsaan di Kodam XVII Cenderawasih

Komentar