Sumsel alami 176 bencana ekologis, sebut Walhi

Sumsel alami 176 bencana ekologis, sebut Walhi

Aksi Tolak Kabut Asap Sejumlah pengunjuk rasa membawa poster di halaman kantor Gubernur Sumsel, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9). Pengunjuk rasa menuntut Pemerintah Provinsi Sumsel segera menyelesaikan bencana ekologis kabut asap yang diakibatkan oleh perusahaan karena kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Sepanjang tahun lalu terdapat 57 kali kebakaran hutan dan lahan, 44 kali banjir, serta puluhan bencana longsor dan bencana ekologis lainnya
Palembang, (ANTARA News) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan mencatat terjadi 176 kali bencana ekologis di 17 kabupaten dan kota dalam provinsi tersebut selama 2018.

"Sepanjang tahun lalu terdapat 57 kali kebakaran hutan dan lahan, 44 kali banjir, serta puluhan bencana longsor dan bencana ekologis lainnya," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, M Hairul Sobri pada acara Tinjauan Lingkungan Hidup Selama 2018, di Palembang, Selasa.

Akibat bencana ekologis itu, kata dia,  ribuan rumah termasuk fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan, mengalami rusak ringan hingga berat karena terendam air hujan dan longsor.

Menurut dia, maraknya aktivitas industri ekstraktif yang berbasiskan lahan dan sumber daya alam merupakan bagian dari pembangunan yang selama ini turut berperan menjadi penyebab bencana ekologis.

Bencana ekologis akumulasi kerusakan akibat kesalahan pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya alam, serta eksploitasi karena kepentingan industri, katanya.

Ia menjelaskan, banyaknya korban dan kerugian yang disebabkan bencana ekologis itu menunjukkan telah terjadi  ketidakseimbangan ekologis, yang kemudian memicu perubahan iklim.

Perubahan iklim menimbulkan bencana ekologis dengan dampak yang sangat luas dirasakan oleh masyarakat, kondisi tersebut menandakan ada sesuatu yang tidak beres dalam pengelolaan sumberdaya alam Sumsel, kata Sobri.

Baca juga: Walhi: Ancaman Bencana Alam di Sumsel Tinggi

Baca juga: Relawan Walhi Sumsel siaga bencana banjir

Pewarta: Yudi Abdullah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Keanekaragaman hayati jaga lahan miring dari ancaman longsor

Komentar