Pakar: stunting bukan karena gen tapi faktor lingkungan

Pakar: stunting bukan karena gen tapi faktor lingkungan

Foto arsip. Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting) saat kegiatan Posyandu balita di Klaten, Jawa Tengah, Rabu (18/4/2018). Sebagai upaya peningkatan investasi di bidang Sumber Daya Manusia (SDM), Presiden Joko Widodo menargetkan penurunan jumlah penduduk stunting atau gagal tumbuh akan menjadi salah satu fokus pemerintah seusai menggeber proyek infrastruktur. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Jakarta (ANTARA News) - Pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Indonesia Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) menekankan bahwa stunting atau kondisi tubuh kerdil pada anak bukan karena gen dari orang tua melainkan faktor lingkungan.

"Faktor lingkungan itu seperti cara hidup, cara makan. Itu yang diturunkan dari orang tua ke anaknya," kata Damayanti di Jakarta, Rabu.

Jika ada orang tua yang sewaktu kecilnya mengalami kekerdilan, anaknya tidak akan mengalami hal serupa karena stunting tidak diwariskan melalui gen, ujar Damayanti.

Menurut dia, kondisi stunting atau tidaknya seorang anak disebabkan dari pola asuh orang tua apakah memberikan asupan dengan gizi seimbang pada anak atau tidak.

"Stunting bukan sesuatu yang diturunkan, kalau diperbaiki pola makannya bisa lebih baik," kata dia.‎

Namun stunting yang disebut juga kurang gizi menahun atau kronis berbeda dengan kasus obesitas pada anak. Damayanti menjelaskan kecenderungan anak mengalamai obesitas turut dipengaruhi oleh gen sebanyak 10 persen dari orang tuanya.

Dia menerangkan banyaknya para orang tua, khususnya ibu muda milenial yang memberikan sayur-sayuran serta buah-buahan sebagai makanan pendamping ASI.

Padahal menurut Damayanti, anak hingga usia dua tahun harus terpenuhi gizi yang sesuai dengan komposisi pembentuk otak yakni karbohidrat, lemak, dan protein.

"Sayur mayur diberikan ke bayi, padahal itu tidak utama. Itu kan serat, d‎i atas dua tahun baru dikasih. ‎Karbohidrat, lemak, protein itu yang membentuk otak anak sampai dua tahun," kata dia. 

***3***

Baca juga: Deteksi stunting, amati berat badan anak

Baca juga: PKH berdampak penurunan stunting hingga 27 persen

Baca juga: Stunting 10 desa ditangani serius


 

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ini anjuran ahli gizi soal makan sahur

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar