counter

HNW: Pecahnya Uni Soviet jadi pelajaran buat Indonesia

HNW:  Pecahnya Uni Soviet jadi pelajaran buat Indonesia

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) memberikan materi Empat Pilar MPR RI di hadapan sekitar 300 lebih Pimpinan dan anggota BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Zona III (Jakarta, Banten, Jawa Barat), di aula Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM) Muhammadiyah Tangerang. (Humas MPR)

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan pecahnya negara besar, kuat dan merupakan negara adi daya saingan Amerika Serikat, Uni Soviet, menjadi pelajaran dan 'alarm' termasuk bagi Indonesia.

Meski Indonesia memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki Uni Soviet, yang menjaga Indonesia tetap utuh, katanya saat menyampaikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Tangerang, Banten, Jumat, demikian siaran pers yang diterima ANTARA.

Dalam kesempatan tersebut, HNW memberikan materi Empat Pilar MPR RI di hadapan sekitar 300 lebih Pimpinan dan anggota BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Zona III (Jakarta, Banten, Jawa Barat), di aula Sekolah Tinggi Teknologi Mutu (STTM) Muhammadiyah Tangerang.

Ia mengatakan, tetap utuhnya Indonesia karena memiliki satu karakteristik yang tidak dimiliki Soviet yakni rasa kebersamaan dan tujuan bersama. Indonesia dibangun bersama dengan berdasar kepentingan bersama, kesepahaman bersama, keyakinan bersama, saling menerima dan memberi, saling bermusyawarah, tidak ada yang merasa diintimidasi dan dipaksa.  Semuanya terangkum dalam satu ideologi yang disepakati bersama yakni Pancasila, katanya.

"Karakteristik itulah yang membuat Indonesia tetap utuh.  Sedangkan Soviet mengapa hancur karena negara itu menghadirkan ideologi yakni komunis yang tidak sepenuhnya diterima rakyatnya. Komunisme itulah yang dipakai oleh Lenin dan Stalin untuk menguasai wilayah-wilayah yang tidak menerima komunisme," terangnya.

Lebih jauh, HNW mengatakan, walaupun Soviet adalah negara super power dengan kekuatan intelijen, militer, persenjataan dan perekonomian yang ditakuti, namun karena rapuhnya ideologi dan dasar pembangunan negara, maka tanpa serbuan kekuatan militer asing tanpa konflik militer internal, Soviet hancur lebur berantakan.

"Untuk itulah kita patut bersyukur bahwa Indonesia kita tetap kokoh, tetap NKRI padahal kita dibayang-bayangi potensi perpecahan yang kuat.  Karena itulah kita mesti menjaga kebersamaan kita, menjaga kesepahaman kita dalam bernegara, menjaga tujuan kita bersama menuju kesejahteraan bersama dan menjaga serta mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya.

Sosialisasi yang juga dihadiri perwakilan rektor STTMM Bunyamin, dan Ketua BEM STTMM Suhendra ini sendiri berlangsung selama setengah hari penuh.  Dengan gaya pemaparan materi yang menarik, diselingi pertanyaan kuis-kuis sederhana, materi Empat Pilar yang disampaikan HNW mendapatkan respon antusias dan aktif peserta.

Pewarta: M Arief Iskandar
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar