Artikel

Nyale dan Pasola Sumba yang mendunia

Oleh Kornelis Kaha

Nyale dan Pasola Sumba yang mendunia

Seorang peserta melempar kayu ke arah lawan dalam Festival Pasola, di Kecamatan Wanokaka, Kabupaen Sumba Barat, NTT, Selasa (26/2/2019). Festival Pasola Wanokaka yang digelar satu tahun sekali itu sebagai bagian dari kegiatan menjaga adat dan tradisi masyarakat Sumba, khususnya Merapu agama asali orang Sumba. (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/ama)

Pelaksanaan Pasola harus didahului dengan tradisi adat 'Nyale' di mana tradisi ini dilakukan untuk mengetahui tahun ini panen di daerah ini melimpah atau tidak..
Kupang (ANTARA) - Berbicara tentang wisata pulau Sumba yang terletak di wilayah Nusa Tenggara Timur memang tak akan pernah ada habisnya.

Sumba selalu menarik minat wisatawan untuk berkunjung karena keindahan alam dan budayanya yang tak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, bahkan di dunia.

Salah satu jenis budaya nenek moyang yang kini dikenal dunia dan menjadi daya tarik bagi wisatawan baik domestik dan internasional adalah Pasola atau dalam bahasa Sumba dikenal dengan sebutan "Pahola".

Masyarakat Sumba yang masih menganut agama Marapu, agama asli setempat, sejak turun temurun lah yang menjaga tradisi Pasola ini.

Pasola berasal dari kata "Pa" yang artinya permainan dan "Sola" atau "Hola" yang berarti tongkat lembing kayu. Artinya, permainan dengan menggunakan tongkat kayu lembing.

Meski disebut permainan, namun Pasola bukan sekadar ajang bersenang-senang. Sebab ada makna yang terkandung dalam permainan yang dimainkan oleh ratusan pemuda ini. Makna yang ada dalam permainan ini adalah sebagai permohonan restu kepada Sang Dewa.

Dalam kepercayaan Marapu, tradisi Pasola dianggap akan mampu menjaga keharmonisan antara arwah leluhur nenek moyang dengan manusia.

Dari keharmonisan antara manusia dengan leluhur ini diharapkan nantinya Sang Dewa akan memberikan keberkahan dan kemakmuran bagi masyarakat Sumba.

"Pelaksanaan Pasola harus didahului dengan tradisi adat 'Nyale' di mana tradisi ini dilakukan untuk mengetahui tahun ini panen di daerah ini melimpah atau tidak. Jika melimpah, maka bisa dilihat dari 'nyale' yang melimpah di pesisir pantai," kata Rato Waigali dari Mawu Hapu Wanokaka.

Nyale adalah cacing laut yang berwarna warni. Biasanya Nyale ditangkap oleh masyarakat kemudian dimasak dan dijadikan makanan yang dicampur dengan kelapa.

Pelaksanaan Nyale juga kata dia berkaitan dengan apakah pelaksanaan Pasola berjalan lancar atau tidak.

Saat dilaksanakannya tradisi Nyale dua orang Rato berjalan menuju ke pesisir pantai memanggil dan nyale agar muncul. Bersamaan dengan dilakukan pemanggilan Nyale, beberapa Rato juga memantau situasi di sekitar acara adat pemanggilan nyale.

"Bila para Rato menemukan banyak nyale yang sehat, gemuk, dan berwarna-warni, itu tandanya Dewa merestui dan Pasola akan dilakukan," ujar dia.

Namun bila nyale yang ditemukan kurus dan tidak sehat maka Pasola tidak bisa dilaksanakan.

Bersyukurlah karena pelaksanaan adat Nyale menghasilkan banyak Nyale, masyarakat kemudian dipersilakan untuk turun ke pesisir pantai untuk menangkap nyale.

Ada yang hanya membawa botol aqua, ada pula yang membawa ember untuk menangkap nyale itu.

Pelaksanaan Pasola juga kata dia masih berkaitan dengan melimpahnya hasil panenan di wilayah Wanokaka.

"Biasanya dalam Pasola akan ada yang meninggal, agar menjadi tumbal sehingga panenan melimpah, tetapi tradisi dan kepercayaan itu perlahan-lahan mulai ditinggalkan," ujar Rato Waigali.

Ketika kemudian Pasola digelar, maka semua warga akan tumpah ruah di sebuah padang rumput yang luas termasuk dengan wisatawan yang berdatangan dari berbagai daerah untuk menyaksikan tradisi itu.

Setelah dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri dari 100 pemuda lebih pada masing-masing kelompok, maka Pasola pun dimainkan.

Dengan bersenjatakan tombak atau lembing kayu yang tumpul dan juga kuda sebagai sarananya, kedua kelompok tadi akan saling serang dengan melemparkan lembing ke arah lawan.

Meski tumpul, namun lembing kayu tadi bisa jadi melukai dan membawa jatuh korban.

Sejumlah wisatawan asing mengaku sangat menikmati dan kagum terhadap tradisi menangkap Nyale dilakukan menyambut Pasola di daerah itu,

Peter misalnya seorang wisatawan asal Belanda yang menyaksikan tradisi Nyale dan Pasola mengaku kagum dengan tradisi nenek moyang orang Sumba yang hingga kini masih dijaga.

Peter berharap pulau Sumba yang indah dengan berbagai pemndan dan tradisi nenek moyang ratusan tahun lamanya itu tetap dijaga.

"Pulau Sumba lebih indah jika dibandingkan dengan Pulau Flores. Tidak heran jika banyak teman-teman kami yang bilang kalau Sumba itu indah," katanya menambahkan.


Legenda Pasola

Kampung Waiwuang di Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat menjadi awal mula munculnya tradisi Pasola.

Waiwuang sendiri merupakam tempat lahirnya Sang Legenda Pasola yakni Ubu Dulla dan saudaranya Yegi Waikakeri dan Ngongu Taumatutu.

Pasola sendiri berawal dari cerita cinta, kehormatan dan pengorbanan serta kebesaran jiwa dan dari kampung adat itulah cerita yang kini mendunia itu dimulai.

Rato Waigali dari Mawu Hapu Wanokaka mengkisahkan bahwa Ubu Dulla ada pemimpin bagi warga di kampung itu.

Karena empatinya kepada masyarakatnya, Ubu Dulla mengembara ke luar kampung itu untuk mencari solusi bagi warganya yang tengah dilanda kelaparan.

Bertahun-tahun setelah mengembara Ubu Dulla tak kembali-kembali sehingga tahta kepemimpinan diberikan kepada istrinya Rabbu Kabba karena rakyatnya menilai Ubu Dulla sudah meninggal.

Waktu terus berganti, hari demi hari bahkan tahun demi tahun Ubu Dulla tak kunjung datang. Akhirnya Rabbu Kabba dipertemukan dengan Teda Gaiparona, seorang pria asal Kodi yang kini masuk dalam Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Merekapun menikah. Namun usai menikah, muncullah Ubu Dulla. Ia kaget ketika mengetahui cintanya telah diambil pria lain.

Sehingga iapun mengumpulkan sejumlah pasukannya untuk merebut kembali istrinya yang telah diambil Teda Gaiparona di Kodi.

Perselisihanpun terjadi, namun pada akhirnya akibat Rabbu tak ingin ada korban jiwa karena dirinya, iapun mengorbankan diri dengan melompat ke laut, sehingga kemudian berubah wujud menjadi nyale agar bisa dinikmati oleh semua masyarakat Sumba.

"Jadi nyale itu menurut kepercayaan masyarakat Sumba bahwa adalah wujud dari Rabbu Kabba yang ingin agar tak ada peperangan antara suami pertamanya dengan keduanya," ujarnya.

Hingga kini masyarakat Sumba khususnya Kodi dan Wanokaka meyakini bahwa Nyale adalah sumber kesuburan dan kemakmuran.


Napak Tilas

Melihat potensi yang bagus untuk semakin memperkenalkan tradisi Pasola dan Nyale ke dunia Internasional, gubernur NTT Viktor B Laiskodat menginginkan agar cerita munculnya Pasola itu dinarasikan secara baik dan benar.

Oleh karena itu iapun merencanakan agar mulai tahun 2020 akan dilaksanakannya Napak Tilas Pasola di pulau Sumba, khususnya di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

"Saya ingin agar nanti dibuatkan narasi soal awal mula Pasola dan mengapa sehingga ada Nyale sehingga orang tahu. Oleh karena itu mulai tahun depan akan ada Napak Tilas soal Pasola di pulau ini," tuturnya.

Pelaksanaan Napak Tilas Pasola kata gubernur akan dilakukan selama satu pekan, dimana semua sekolah diliburkan.

Hal ini kata dia agar wisatawan tahu cerita soal Pasola ini. Kemudian juga kata dia, narasi yang ditulis juga dalam bentuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Bagi dia, Pasola adalah tradisi nenek moyang yang hingga kini masih terus dijaga dengan baik oleh masyarakat Sumba.

Bupati Sumba Barat Agustinus Niga Dapawole mengatakan bahwa mengapresiasi rencana gubernur NTT itu.

"Kita masih membahas soal narasi itu. Namun semua orang setuju dengan rencana dari pak gubernur," tutur dia.

Baca juga: Tiongkok gelar malam budaya di Kupang dan Sumba Timur

Oleh Kornelis Kaha
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar