counter

ACT Aceh galang dana bantu Pianto yang mengalami gizi buruk

ACT Aceh galang dana bantu Pianto yang mengalami gizi buruk

sejumlah anak penderita gizi buruk . (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Banda Aceh (ANTARA) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh melakukan penggalangan dana untuk meringankan beban keluarga Pianto (2), bayi yang sedang melawan gizi buruk berasal dari Kota Subulussalam, Aceh, kini menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit Banda Aceh.

"Dari dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya hidup selama masa pengobatan adik kita Pianto, dan pemberdayaan ekonomi keluarganya," kata Kepala Cabang ACT Aceh Husaini Ismail di Banda Aceh, Senin.

Ia mengatakan, ACT Cabang Aceh berupaya meringankan beban keluarga Pianto melalui kampanye di kitabisa.com dengan laman https://www.kitabisa.com/dukungadikpianto.

Bisa juga menyalurkan donasi ke rekening Bank Aceh Syariah dengan nomor rekening 010 0193 000 9205 atas nama Aksi Cepat Tanggap, atau menghubungi ACT Aceh di nomor seluler 0822 8326 9008.

Pianto Syahputra Laia, bayi mungil terlihat terkulai lemas di atas kasur khusus di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.

Jarum infus menusuk bagian lengan tangan pada tubuh si pasien tersebut. Pernafasannya menggunakan alat bantu selang yang tersambung ke alat canggih, dan terletak di atas kepalanya.

Kedua orang tua dari bayi malang ini Fanetona Laia, dan Jernih Hati Nduru tinggal di Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Subulussalam, telah menerima santunan dari Global Zakat melalui MRI Subulussalam, sehingga bisa membawa anaknya untuk berobat RSUDZA, Jumat (1/3).

Ketika ACT Cabang Aceh, dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banda Aceh mengunjunginya pada Jumat (9/3), tampak ibu Pianto, Jernih setia menemani di samping sang anak.

"Meski demikian, keluarga kecil ini masih sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan," ucap Husaini.

Jernih (27) mengaku, baru mengetahui anak menderita gizi buruk, setelah diawali diare berkelanjutan ketika usianya sekitar tiga bulan. Waktu itu, lanjutnya, Jernih dan suaminya, membawa putranya ke RSUD Subulussalam.

"Dokter mendiagnosanya mengalami gizi buruk. Seminggu di sana, kondisinya pun berangsur membaik," katanya.

Penyakit tersebut kembali menghantui ketika Pianto berusia 1,8 tahun. Kali ini kondisinya semakin parah ditandai berat badan si anak turun drastis dari lima kilogram menjadi 2,5 kilogram pada hari kedua di rawat, dan hari ketiga naik menjadi empat kilogram.

Tim dokter rumah sakit setempat menyebut, penyakit gizi buruk diderita Pianto mulai menyebabkan komplikasi penyakit lain berupa anemia, dan kesehatan jantung yang mulai terganggu. Bayi ini harus di rujuk ke RSUDZA di Banda Aceh atau rumah sakit di Medan, Sumatera Utara.

Mendengar hal tersebut, keluarga kecil ini sempat frustasi dan kebingungan harus membawa anaknya ke rumah sakit di kedua ibu kota provinsi, karena kondisi ekonomi mereka tergolong sangat cukup sulit. Sehari-hari, Fanetona dan anak sulungnya cuma bekerja sebagai tukang babat di salah satu perusahaan di Subulussalam, dan Jernih berstatus ibu rumah tangga yang merawat Pianto di rumah.

"Dalam sebulan, penghasilan keluarga kami di bawah Rp400 ribu. Uang itu dicukup-cukupkan selama ini. Jangankan membeli baju baru, bisa makan dengan uang sebesar itu saja kami sudah sangat bersyukur," kata Jernih.
***3***

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penegakan hukum di laut demi penuhi gizi anak bangsa

Komentar