counter

Setelah tertekan 2018, ekonom ini yakin pasar keuangan Indonesia kembali bergairah

Setelah tertekan 2018, ekonom ini yakin pasar keuangan Indonesia kembali bergairah

Menteri Keuangan periode 2013-2014 Chatib Basri menjadi pembicara saat diskusi ekonomi dan politik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (14/3/2019). (ANTARA/Citro Atmoko)

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Chatib Basri meyakini pasar keuangan Indonesia pada tahun ini akan kembali bergairah setelah pada 2018 tertekan imbas dari arus modal keluar karena bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunganya.

"Di dalam konteks ini, saya mau bilang ini akan membuat pasar keuangan di Indonesia kembali bergairah. Karena kalau The Fed menahan kenaikan suku bunga, maka arus modal akan kembali ke emerging market. Kalau arus modal kembali ke emerging market dia akan masuk di stock dan bond," ujar Chatib saat diskusi ekonomi dan politik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis.

Menteri Keuangan periode 2013-2014 menuturkan, tatkala The Fed pada akhir Desember 2018 mengatakan akan lebih bersabar untuk menaikkan suku bunganya, nilai tukar rupiah bisa menguat dari Rp15.120 menjadi Rp14.200, bahkan sempat ke Rp13.900. Ia sendiri meyakini tahun ini The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya.

"Artinya, penguatan rupiah masih akan terjadi tahun ini karena kemungkinannya The Fed masih akan menaikkan suku bunga hanya satu kali atau bahkan menghentikannya tahun ini," katanya.

Spekulasi pasar sendiri menilai The Fed masih akan menaikkan suku bunganya satu kali pada tahun ini. Apabila itu terjadi, maka Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 6 persen.

"Ada kemungkinan BI menaikkan satu kali lagi sebesar 25 basis poin, tapi saya tidak melihat hal itu," ujar Chatib.

Selain penguatan rupiah, sikap dovish The Fed juga berdampak pada pasar obligasi Indonesia. Imbal hasil obligasi Indonesia tenor 10 tahun turun dari 8,4 persen jadi 7,9 persen. Ia mengatakan, jika Fed Fund Rate bertahan di sekitar 2,5 persen, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mungkin di sekitar 2,6 persen.

"Selisih dari spread swap transaction dolar AS dan rupiah itu 4 persen. Kemudian, marginnya 1 persen, jadi kalau di AS itu 2,6 persen mungkin obligasi 10 tahun kita akan di kisran 7,6 persen di tahun ini. Ini yang bisa menjelaskan mengapa bond market kita menjadi sangat bullish. Saya sangat bullish dengan sektor keuangan," kata Chatib.

Ia menambahkan, jika The Fed mencoba menghentikan normalisasinya dan lebih bersabar dalam kebijakan suku bunganya, pada tahun ini rupiah akan mampu menguat di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.000 per dolar AS, maka indikasinya portofolio investasi akan kembali ke Indonesia dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

"Yang menarik apakah Bank Indonesia sudah bisa menurunkan suku bunganya? Dugaan saya, dengan kondisi current account deficit yang masih menganga, ruang untuk menurunkan suku bunga saat ini masih agak sulit," ujarnya.

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar