counter

Tanggapan gamers soal wacana fatwa haram PUBG

Tanggapan gamers soal wacana fatwa haram PUBG

Gamers dan youtuber Afif Yulistian ditemui di Jakarta, Selasa (26/3/2019). (ANTARA News/Arindra Meodia)

Jakarta (ANTARA) - Wacana fatwa haram game Player Unknown's Battlegrounds (PUBG) yang masih dikaji Majelis Ulama Indonesia (MUI) menuai berbagai tanggapan dari sejumlah gamers.

Gamers dan youtuber Afif Yulistian berpendapat wacana tersebut dapat menghalangi industri e-sports yang saat ini sedang berkembang di Indonesia.

“Menurut gue, PUBG yang diharamkan enggak nyambung... Kalau diharamkan, gue enggak setuju karena itu menghalangi e-sports yang sedang berkembang di Indonesia,” ujar Afif kepada Antara di Jakarta, Selasa.

Menurut Afif, e-sports saat ini berkembang karena banyak game yang dimasukkan dalam turnamen, sehingga e-sports dapat dijadikan menjadi pilihan pekerjaan.

“Kalau menurut gue untuk sekarang game itu masih bisa dimainkan dengan pengawasan orang tua,” kata Afif.

Hal senada juga disampaikan oleh Brand ambassador & executive assistant tim e-sports Alter Ego, Grimonia Martha Graciela, yang menyebut wacana tersebut tidak masuk akal.

“Misalkan wacana itu dibilang haram agak aneh sih, kalau misalkan dibilang PUBG memang dibilang haram, Freefire terus Fortinet sama cara permainannya, menurut aku enggak masuk akal,” ujar perempuan yang akrab disapa Grace itu.

Di India, game PUBG yang dimainkan pada perangkat smartphone sudah mulai menguji fitur yang dapat membatasi waktu bermain.

Grace tidak setuju dengan wacana ini. Menurut dia, hal itu akan mengambat para pemain e-sports ataupun mereka yang ingin merintis karir di dunia e-sport.

“Kalau aku sendiri bakal kecewa aku bagian dari tim e-sports, time e-sports minim 12 jam sehari, kalau cuma 6 jam takutnya untuk persiapan turnamen enggak cukup matang,” kata dia.

Dia juga berpendapat game PUBG tidak mempengaruhi perilaku anak, asalkan berada di bawah pengawasan orang tua.

Di tim e-sports Alter Ego misalnya, Grace mengatakan pemain usia sekolah (15-16 tahun) wajib mengantongi surat pernyataan dari kedua orang tua sebelum bergabung.

“Untuk memastikan anaknya belajar juga. Menyeimbangan game dan pendidikan,” ujar Grace.

Baca juga: MUI dan Kominfo belum tentukan pelarangan game PUBG

Baca juga: MUI sebut pro kontra game PUBG wajar

Baca juga: Pengamat sarankan edukasi literasi damai ketimbang haramkan PUBG



 

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Imbangi PUBG dengan game bermuatan edukasi

Komentar