counter

Industri nasional komitmen bangun perkebunan sawit berkelanjutan

Industri nasional komitmen bangun perkebunan sawit berkelanjutan

Direktur BPDP KS Herdrajat Natawijaya (ketiga dari kiri) dalam diskusi Sawit Berkelanjutan di Jakarta, Kamis. (Subagyo)

Jakarta (ANTARA) - Industri minyak sawit nasional terus berkomitmen untuk membangun perkebunan kelapa sawit menjadi lebih maju dan berkelanjutan.

Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) Herdrajat Natawijaya di Jakarta, Kamis menyatakan, sebagai produsen terbesar CPO dunia, kini predikat terbesar produsen minyak sawit berkelanjutan juga melekat kepada Indonesia.

"Peranan pelaku usaha dalam menyediakan produksi minyak sawit berkelanjutan, juga dilakukan secara berkesinambungan. Berbekal komitmen luas akan berkelanjutan, industri minyak sawit nasional juga terus membangun perkebunan kelapa sawit menjadi lebih maju dan berkelanjutan," katanya dalam Diskusi Sawit Berkelanjutan yang digelar majalah Info Sawit.

Menurut dia, BPDP KS selalu memperjuangkan keberadaan minyak sawit yang telah memiliki prinsip dan kriteria berkelanjutan. Apalagi minyak sawit Indonesia telah memiliki standar berkelanjutan yang mandatori seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi perkebunan kelapa sawit nasional.

Bahkan sebagian minyak sawit Indonesia juga telah memiliki sertifikat RSPO dan Sertifikat Standar Carbon Internasional (ISCC).

"Memang keberadaan minyak sawit di pasar global masih memiliki banyak tantangan sebab itu keberadaan minyak sawit Indonesia harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dari pemerintah," katanya dalam diskusi bertema "Sustainable Palm Oil: Membeli yang baik"

Sementara itu Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang menyatakan, evaluasi dan perbaikan prinsip dan kriteria RSPO (P&C RSPO) selalu dilakukan setiap lima tahun sekali, berdasarkan kesepakatan para anggota RSPO.

"P&C RSPO akhir tahun 2018 lalu, telah banyak mengalami perubahan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan yang ramah lingkungan dan ramah sosial," katanya.

Pengembangan usaha minyak sawit, lanjutnya, tak hanya persoalan bisnis, namun keberadaan industri minyak sawit, telah menjadi bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Menurut Senior Managing Director Sinar Mas Agri, Agus Purnomo, keberadaan pelaku usaha minyak sawit, selalu melakukan banyak perbaikan guna menghasilkan minyak sawit berkelanjutan.

Prinsip utama tranparansi dan akuntabilitas, lanjutnya, juga telah diterapkan kepada mata rantai pemasok Tandan Buah Segar (TBS) yang diproses Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik perusahaan.

Agus Purnomo juga menjelaskan berbagai rencana aksi yang telah dilaksanakan dan direncanakan perusahaannya dalam menghasilkan produksi minyak sawit berkelanjutan.

Meskipun tak mudah, namun ia memiliki optimisme besar akan keberhasilan minyak sawit yang ramah lingkungan dan sosial.

"Perusahaan terus melakukan pembenahan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan," katanya.

Sementara itu Sustainable Palm Oil Program Manager WWF Indonesia, Joko Sarjito menyatakan sering menyuarakan kepada masyarakat luas supaya mau membeli minyak sawit yang baik.

"WWF Indonesia terus mendorong berbagai upaya perbaikan yang dilakukan untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan," ujarnya.

Pewarta: Subagyo
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

GAPKI: Uni Eropa bukan pasar terbesar sawit Indonesia

Komentar