counter

Artikel

Mudik lintasi Tol Trans Jawa, jangan lupa mampir museum dan kuliner

Oleh Aris Wasita

Mudik lintasi Tol Trans Jawa, jangan lupa mampir museum dan kuliner

Illustrasi: Sejumlah pengendara melintasi ruas tol Salatiga-Boyolali di Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/aww).

Meskipun konsepnya museum, namun Museum De Tjolomadoe dijamin tidak monoton dan tidak membosankan
Solo (ANTARA) - Momentum mudik menjadi salah satu rutinitas istimewa di Indonesia pada jelang Lebaran yang jarang ditemui di negara lain.

Mudik artinya perantau yang kembali ke kampung halaman, biasanya dilakukan beberapa hari jelang Lebaran.

Perjalanan mudik sendiri dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai moda transportasi, mulai dari pesawat terbang, kapal laut, dan kendaraan pribadi. Meski identik dengan waktu tempuh yang cukup lama, saat ini mudik jalur darat dengan menggunakan kendaraan pribadi menjadi lebih menarik, terutama bagi pemudik di Pulau Jawa, karena kini ada Tol Trans Jawa.

Sepanjang ruas Tol Semarang-Solo, misalnya, pengendara dimanjakan dengan pemandangan hutan hingga sawah. Tepatnya di ruas Tol Semarang-Ungaran pengendara dapat menikmati pemandangan Hutan Cemara. Sedangkan memasuki Bawen pengendara disuguhkan pemandangan Kebun Kopi Banaran.

Memasuki Salatiga hingga Solo, pemandangan baik di sisi kanan maupun kiri jalan lebih didominasi oleh hamparan sawah.

Yang menarik lagi, untuk melepas kepenatan di tengah perjalanan panjang, pengendara bisa sekaligus melakukan perjalanan wisata. Salah satu objek wisata populer di wilayah Soloraya yang tidak jauh jika ditempuh dari pintu tol yaitu bangunan bersejarah De Tjolomadoe.

Bangunan yang terletak di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, ini letaknya hanya sekitar  tiga km dari pintu Tol Ngasem, Kartasura.

Keluar dari pintu Tol Ngasem, belokkan kendaraan ke arah kiri hingga sampai di lampu lalu lintas pertama, selanjutnya ambil arah kiri lagi untuk menuju ke Jalan Tentara Pelajar.

Sampai di lampu lalu lintas pertama, tepatnya di perempatan Pasar Colomadu, lajukan kendaraan ke arah lurus. Bangunan De Tjolomadoe sendiri letaknya sekitar 300 meter dari perempatan tersebut, tepatnya berada di kanan jalan.

Untuk masuk ke objek wisata yang baru diresmikan pada pertengahan 2018 lalu, setiap pengunjung dikenakan tiket seharga Rp25.000.
Salah satu pengunjung sedang melihat miniatur mesin pembuatan gula di Museum De Tjolomadoe (Foto: Aris Wasita) (Foto: Aris Wasita/)



Penuh Mesin

Mengingat objek wisata tersebut dulunya merupakan Pabrik Gula Colomadu, banyak mesin yang hingga saat ini masih terpasang di beberapa gedung yang ada di kawasan tersebut.

Meski sudah berusia ratusan tahun, saat ini mesin-mesin raksasa tersebut masih terlihat baik dan kokoh, apalagi pascarevitalisasi yang menelan biaya hingga miliaran rupiah.

Selain dimanjakan oleh keberadaan mesin-mesin kokoh, pengunjung juga diajak merasakan pengalaman baru tidak terlupakan di Museum De Tjolomadoe.

Dengan mengangkat konsep wisata edukasi, Museum De Tjolomadoe mempersembahkan berbagai sajian dalam bentuk diorama, arsip-arsip kuno Pabrik Gula Colomadu, hingga video sejarah pabrik peninggalan Mangkunegaran IV tersebut.

Marketing Manager De Tjolomadoe Achmad Ridho mengatakan di museum tersebut terdapat pula Taman Wagis Wara yang merupakan sajian kerja sama dengan seniman dari Yogyakarta.

"Konsepnya dibuat glow in the dark. Ini sangat menarik bagi pengunjung untuk bereksplorasi. Meskipun konsepnya museum, namun Museum De Tjolomadoe dijamin tidak monoton dan tidak membosankan," katanya.

Dengan banyaknya informasi yang diberikan, pengelola berharap agar pengunjung bisa memperoleh banyak informasi tentang perjalanan kejayaan Pabrik Gula Colomadu.

"Bahkan saat jayanya sampai mendatangkan perwakilan dari Thailand untuk belajar tentang ilmu pabrik gula. Harapannya usai berkunjung ke sini pengunjung dapat bercerita banyak tentang sejarah Pabrik Gula Colomadu ke orang-orang di sekitarnya," katanya.

Tidak perlu khawatir dengan tempat parkir, kawasan tersebut dilengkapi dengan lokasi parkir luas yang mampu menampung ratusan kendaraan roda empat.
 
Ilustrasi sate kambing (foto.net)

Wisata kuliner

Usai berjalan-jalan di De Tjolomadoe, pemudik bisa sekaligus melanjutkan berwisata kuliner di Kota Solo. Solo sendiri memiliki banyak kuliner khas yang dirindukan oleh perantau, di antaranya timlo, tengkleng, nasi liwet, sate buntel, dan selat Solo.

Salah satu tempat makan yang layak dikunjungi, yaitu Sate Kambing Pak Manto. Usai dari De Tjolomadoe, sambil menunggu beduk Magrib pemudik bisa mengarahkan kendaraan ke arah Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Sampai di Perempatan Ngapeman atau Sami Luwes, belokkan kendaraan ke arah kanan. Sekitar 300 meter dari perempatan, Sate Kambing Pak Manto berada di sebelah kanan jalan.

Untuk memastikan memperoleh tempat duduk, pengunjung bisa datang paling tidak 1-2 jam sebelum buka puasa.

Beberapa menu yang tersedia di Sate Kambing Pak Manto, di antaranya tongseng dengan harga Rp57.000/porsi, tengkleng rica Rp68.000/porsi, nasi godog Rp40.000/porsi, sate buntel Rp64.000/porsi, nasi goreng kambing Rp40.000/porsi, sate kambing Rp57.000/porsi, buntel masak Rp63.000/porsi, dan garang masak Rp57.000/porsi.

Beberapa menu yang banyak diminati pembeli yaitu tengkleng rica dan sate buntel. Untuk tengkleng rica ini cukup istimewa karena disajikan dalam porsi besar.

Menu ini hanya cocok dinikmati oleh para penggemar makanan pedas karena bumbu pedas bukan hanya berasal dari cabai rawit tetapi juga merica. Tidak perlu khawatir dengan kandungan serat sayuran, karena penjual menyertakan potongan besar kobis setengah matang pada setiap porsinya.

Sedangkan untuk sate buntel, setiap porsinya terdapat tiga sate buntel berukuran besar dengan dilengkapi saus kecap di atasnya.

Jika beruntung, pembeli bisa sekaligus jajan es puter yang biasa mangkal di sekitar warung makan tersebut sebagai menu penutup. Hingga saat ini, jajanan anak tersebut masih banyak ditemui di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.

H-3 Lebaran 2019, jalur Pantura sepi pemudik

Oleh Aris Wasita
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar