Desa Inovatif

Rempoah bersinergi mewujudkan desa mandiri

Oleh Sumarwoto

Rempoah bersinergi mewujudkan desa mandiri

Budi daya larva lalat hitam atau Maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan memanfaatkan sampah organik di Desa Rempoah, Kabupaten Banyumas. (ANTARA/Sumarwoto)

Banyumas (ANTARA) - Desa Rempoah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masuk dalam daftar 100 Desa Terbaik versi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dengan status sebagai Desa Mandiri pada tahun 2018.

Kemampuan Ibu Kota Kecamatan Baturraden itu mempertahankan status sebagai Desa Mandiri yang diraih tahun 2014 menjadi kebanggaan bagi warganya, yang terlibat aktif dalam pelaksanaan program-program inovatif pembangunan desa.

"Kami selalu dilibatkan dalam perencanaan kegiatan, salah satunya terkait dengan pengelolaan sampah," kata Saonah, warga Desa Rempoah.

Nuha Adarwiti dan Purwanto, warga desa lainnya, juga mengatakan bahwa kemajuan Rempoah merupakan buah kerja sama yang baik antara pemerintah dan warga Rempoah.

"Jika dibandingkan dulu, sekarang jauh lebih baik karena banyak dana bantuan dari pemerintah meskipun ada beberapa pembangunan yang belum terselesaikan," kata Purwanto.

Sarana dan prasarana pendukung kegiatan ekonomi warga desa juga makin baik.

"Sekarang banyak kemajuan di Rempoah, kondisi pasar desanya pun lebih baik, lebih enak. Tempatnya sekarang juga lebih bersih, sehingga pembeli lebih ramai," kata Koriah, warga desa yang berjualan di Pasar Rempoah 2.

Sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Baturraden dan daerah penyangga Kawasan Wisata Baturraden, Rempoah sudah memiliki berbagai infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi seperti infrastruktur transportasi serta komunikasi dan informasi.

Sekretaris Desa Rempoah Sri Rejeki menuturkan fasilitas pendidikan dan pelayanan kesehatan pun cukup lengkap di wilayahnya.

Di Desa Rempoah, terdapat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Sementara dalam pelayanan kesehatan, selain banyak tempat praktik dokter dan apotek, Puskesmas Baturraden 1 dan Puskesmas Baturraden 2 pun berada di Rempoah.


Peran Kepala Desa

Keberhasilan Rempoah menjadi Desa Mandiri tidak lepas dari peran Sugeng Pujihartono, yang menjabat sebagai kepala desa sejak tahun 2013 setelah selama 10 tahun menjadi kepala dusun.

Dia mengatakan, sejak menjadi kepala desa dirinya bertekad untuk membenahi banyak hal untuk menambah pendapatan asli desa.

Pada masa awal menjabat sebagai Kepala Desa Rempoah, Sugeng menerima bantuan dana Rp150 juta untuk merehabilitasi Pasar Rempoah 2.

Setelah rehabilitasi pasar tersebut selesai, Pemerintah Desa Rempoah memberlakukan sewa kios, sewa meja tempat jualan di los pasar, dan biaya parkir.

“Alhamdulillah, pendapatan dari Pasar Rempoah 2 yang dulunya hanya berkisar Rp16 juta per tahun, sekarang bisa mencapai Rp100 juta per tahun,” kata Sugeng.

Sementara untuk Pasar Rempoah 1 yang baru selesai direhabiltasi, kini juga sudah sangat bagus dalam hal peningkatan pendapatan.

Sebelum ada dana desa dari pemerintah pusat, pendapatan asli Desa Rempoah utamanya berasal dari hasil lelang tanah kas desa.
 
Aktivitas warga di Pasar Rempoah, Desa Rempoah, Kabupaten Banyumas. (ANTARA/Sumarwoto)


Saat itu, pembangunan yang dilaksanakan di Rempoah hanya mengandalkan pendapatan asli dan beberapa bantuan lain dari pemerintah. Meskipun jumlahnya tidak seberapa, Pemerintah Desa Rempoah berusaha memeratakan pembangunan di semua dusun agar seluruh warga bisa merasakannya.

Sejak pemerintah pusat mengucurkan dana desa pada tahun 2015, pembangunan di Desa Rempoah makin menggeliat karena sesuai dengan ketentuan, 70 persen dari dana yang diterima diprioritaskan untuk kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan adanya dana desa tersebut, Pemerintah Desa Rempoah pun mulai melaksanakan pembangunan fisik seperti pengaspalan sejumlah jalan desa, pembuatan jalan setapak, dan sebagainya.

Sugeng mengakui pembangunan yang menggunakan dana desa di Rempoah hingga sekarang belum bisa maksimal, tidak seperti desa-desa lainnya khususnya yang masuk wilayah Kecamatan Baturraden.

"Kebetulan Rempoah merupakan desa besar, paling luas di Kecamatan Baturraden (luasnya mencapai 138,344 kilometer persegi). Kalau desa-desa lainnya yang kecil, pembangunannya hampir selesai, sampai pemerintah desanya bingung, dana desa yang mereka terima mau untuk apa,” katanya.

Kendati demikian, berkat dukungan dana desa, kini pendapatan asli Desa Rempoah sudah mencapai kisaran Rp789 juta. Kalau pendapatan desa secara keseluruhan, termasuk yang bersumber dari dana desa mencapai kisaran Rp3,5 miliar. Sebelum ada dana desa, hanya sekitar Rp1 miliar.


Inovasi Pengelolaan BUMDes

Pemerintah Desa Rempoah berusaha mengelola keuangan desa secara transparan dengan melibatkan warga dalam pembahasan program-progam pembangunan, termasuk dalam membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Maju Bersama tahun 2017.

Berbagai inovasi kegiatan pun mulai dikembangkan oleh Pemerintah Desa Rempoah bersama BUMDes setempat sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan asli serta pemberdayaan masyarakat.

Pada awalnya, BUMDes Berkah Maju Bersama menangani pengelolaan sampah di Desa Rempoah. Dalam perkembangannya, BUMDes tersebut juga menangani pengadaan air bersih serta perdagangan dan keterampilan.

Bahkan, Unit Pengelolaan Sampah BUMDes Berkah Maju Bersama dalam perkembangannya tidak hanya mengelola sampah, sejak akhir tahun 2018 juga mengembangkan budi daya larva lalat hitam atau Maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan memanfaatkan sampah organik. Kini, budi daya larva lalat hitam tersebut mulai memberikan pendapatan bagi BUMDes.

Sementara untuk Unit Pengadaan Air Bersih serta Unit Perdagangan dan Keterampilan saat sekarang masih merintis usaha yang diharapkan dalam beberapa waktu ke depan bisa menyumbangkan pendapatan.

Kepala Desa Rempoah Sugeng Pujihartono memperkirakan Unit Pengadaan Air Bersih akan memberikan pendapatam setelah jaringan air bersihnya masuk ke rumah-rumah warga karena saat sekarang baru membangun sumber airnya. "Tinggal satu kali lagi penganggarannya, nanti bisa masuk ke (rumah) warga dan nantinya bisa menjadi tambahan PADes," katanya.

Unit Perdagangan dan Keterampilan saat ini telah membuka Warung BUMDes dan persewaan kios yang dibangun di lahan bekas Balai Desa Rempoah (kantor lama, red.). Warung BUMDes menempati salah satu kios dari tujuh kios yang disewakan.

Ke depan, Warung BUMDes Berkah Maju Bersama akan menyediakan berbagai produk makanan khas maupun kerajinan yang dihasilkan warga Desa Rempoah.

"Saat ini Warung BUMDes baru menyediakan alat tulis dan makanan kecil dari warga sini," katanya.
 
BUMDes Berkah Maju Bersama membangun tujuh kios di lahan bekas Balai Desa Rempoah, Kabupaten Banyumas, salah satunya digunakan untuk Warung BUMDes. (ANTARA/Sumarwoto)


Berkat Larva

Unit pengelolaan sampah BUMDes awalnya berencana mengolah sampah organik menjadi kompos.

Namun, karena keterbatasan tenaga kerja dan kesulitan memperoleh bahan pendukung pembuatan kompos, Unit Kegiatan Pengelolaan Sampah BUMDes Berkah Maju Bersama mencoba mengembangkan budi daya larva lalat hitam Maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan memanfaatkan sampah organik.

Larva lalat hitam tersebut kemudian bisa menjadi pengganti pakan ikan maupun hewan ternak.

"Saya telah mencoba menggunakan Maggot untuk pakan ikan lele dan ternyata pertumbuhan lele menjadi luar biasa," kata Sugeng.

Manajer Unit Pengolahan Sampah BUMDes Berkah Maju Bersama, Sulemi, mengatakan sekarang Maggot banyak dicari pembudidaya ikan lele.

Harga Maggot berkisar Rp8.000-Rp10.000 per kilogram, tergantung pada pengambilan. Orang yang membeli satu sampai 10 kilogram akan dikenai harga Rp10.000 per kilogram, sementara mereka yang membeli di atas 20 kilogram akan dikenai harga Rp8.000 per kilogram.

Menurut Sulemi, panen Maggot dilakukan setiap tiga hingga empat hari sekali dan dari enam kotak budi daya milik BUMDes hanya lima kotak yang dijual, satu kotak lainnya akan dibiarkan tumbuh menjadi lalat hitam. Setiap kali panen, dalam satu kotak bisa menghasilkan Maggot sebanyak 10-15 kilogram dan dalam satu minggu bisa menjual sebanyak 60-70 kilogram.

Dia berharap selanjutnya warga ikut memanfaatkan sampah organik untuk membudidayakan larva lalat hitam, sehingga bisa memetik keuntungan ekonomi dari pengolahan sampah sekaligus menopang kemandirian Rempoah.

Berkat Dana Desa

Dana Desa memungkinkan Desa Rempoah membangun serta memperbaiki sarana dan prasarana desa.

Mundirin, warga RT 03 RW 04 Desa Rempoah, mengatakan setelah ada Dana Desa kegiatan pembangunan meningkat pesat, terutama pembangunan jalan lingkungan maupun jalan setapak.

"Di samping menggunakan dana desa, juga ada subsidi dari masyarakat," katanya.

Pemerintah Desa Rempoah juga menggunakan Dana Desa untuk membangun irigasi dan pasar.

"Yang jelas sekali tampak adalah pembangunan di pasar. Kebetulan Rempoah punya dua pasar," kata Mundirin.

Setelah diperbaiki menggunakan Dana Desa, kata dia, kedua pasar tersebut makin ramai. Pengunjungnya tidak hanya warga Rempoah, namun warga desa lain yang belum punya pasar.

Heri Lispriyono, warga lainnya, berharap kegiatan pembangunan yang dilakukan menggunakan Dana Desa selanjutnya bisa meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).

"Harapan kami, dana desa bisa dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan fisik maupun nonfisik yang nantinya bisa meningkatkan PADes. Kita belum tahu apakah kucuran dana desa akan terus berkelanjutan atau tidak berlanjut," kata Heri, warga Rempoah RT 03 RW 01.

Ia berharap pemerintah mengucurkan Dana Desa secara berkelanjutan sampai desa mandiri, tidak lagi bergantung pada dana bantuan dari mana pun. (KR-SMT)

 
Salah satu ruas jalan lingkungan di Desa Rempoah, Kabupaten Banyumas, yang pembangunannya menggunakan dana desa. (ANTARA/Sumarwoto)


 

Oleh Sumarwoto
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pasar bergerak, cara berbelanja di pandemi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar