counter

Pengamat: Langkah Polres Flotim pertahankan pasukan di Adonara tepat

Pengamat: Langkah Polres Flotim pertahankan pasukan di Adonara tepat

Pasukan TNI yang membantu Polri dalam mengamankan situasi di Pulau Adonara pada perang tanding antarwilayah di pulau itu pada tahun 2014 silam. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Kupang (ANTARA) - Pengamat hukum dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Karolus Kopong Medan, SH.Mhum menilai, langkah Polres Flores Timur, Nusa Tenggara Timuru (NTT), mempertahankan pasukan di Pulau Adonara pascabentrok antarwarga dua desa di pulau itu adalah tepat.

"Keputusan mempertahankan pasukan di Adonara sangat tepat, karena kalau belum ada rekonsiliasi, maka kemungkinan akan muncul gejolak lanjutan pascaaparat keamanan ditarik pulang," kata Karolus Kopong Medan kepada Antara di Kupang, Rabu.

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan keberadaan pasukan Polri dan TNI yang ditempatkan di Pulau Adonara, pascabentrok antarwarga dua desa di pulau itu pada Rabu, (5/6) lalu.

Kapolres Flores Timur, AKBP Deny Abrahams secara terpisah mengatakan, penarikan pasukan dari Pulau Adonara, masih menunggu negosiasi perdamaian oleh tokoh-tokoh adat, dan tokoh masyarakat dari dua desa yang bertikai.

"Situasi sementara kondusif. Pasukan masih di Adonara, menunggu negosiasi perdamaian oleh tokoh-tokoh adat dan tokoh masyarakat," kata AKBP Deny Abrahams.

Menurut Kopong Medan, aparat keamanan memang sangat dibutuhkan, tapi kalau tidak diikuti dengan memaksimalkan peran para tokoh adat, dan pemuka-pemuka agama untuk menyelesaikan akar masalah maka akan sia-sia.

"Kedua kelompok yang bertikai pasti akan beraksi lagi setelah aparat keamanan sudah tidak ada lagi," kata Kopong Medan yang merupakan putra Adonara yang menaruh perhatian khusus terhadap masalah kekerasan di Pulau Adonara itu.

Karena itu, Pemda Flores Timur perlu segera menggandeng tokoh adat untuk melakukan upaya-upaya yang lebih substansial, terutama mengupayakan proses-proses menuju rekonsiliasi kedua belah pihak melalui mekanisme hukum adat setempat.

Tanpa upaya rekonsiliasi, maka dapat diperkirakan akan muncul gejolak lanjutan pasca apsrat keamanan ditarik pulang, kata Karolus Kopong Medan menambahkan.

Karolus Kopong Medan adalah doktor yang mengambil disertasi tentang "Peradilan rekonsiliatif (harmoni) dalam penyelesaian kasus kriminal pada masyarakat Lamaholot di Flores NTT"
.
Selain disertasi, tesis S2 lulusan Undip Semarang itu adalah "Pembunuhan dalam kasus tanah dan wanita di Adonara Flores, suatu analisis budaya hukum".

Baca juga: Satu meninggal dalam bentrok antarwarga di Pulau Adonara

Baca juga: Satu SST Brimob dari Maumere bantu pengamanan di Adonara


 

Pewarta: Bernadus Tokan
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar