counter

20 persen produksi telur Lampung dipasarkan ke Jakarta

20 persen produksi telur Lampung dipasarkan ke Jakarta

Luuk Schoonman (Chief Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia), memberikan sambutan pada acara Media Fellowship 2019, di Bandarlampung, Rabu (18/6/2019) (Antara Lampung/Agus Wira Sukarta)

penyakit flu burung masih setia menemani peternak dengan kematian ayam yang cukup tinggi
Bandarlampung (ANTARA) - Sebanyak 20 persen dari 200 ton per hari produksi telur Lampung dipasarkan ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di ibukota Indonesia tersebut.

"Jumlah peternak petelur di Lampung mencapai kurang lebih 1.000 peternak dengan populasi empat juta ekor, " kata Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung, Jenny Soelistiani, pada media fellowship 2019, yang diinisiasi oleh Badan Pangan Sedunia (FAO) Kementerian Pertanian bekerjasama dengan LKBN Antara, di Bandarlampung, Rabu.

Ia menyebutkan peternak petelur menyebar di delapan kabupaten dan populasi terbanyak di Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Menurut dia, sebanyak 1.000 orang peternak Lampung, yang terlibat aktif dalam PPN baru 100 orang peternak. "Potensi peternak petelur masih sangat besar," katanya.

Ia dalam kesempatan itu mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, perunggasan nasional khususnya ayam petelur menghadapi banyak cobaan dan tantangan.

Menurut dia, penyakit flu burung masih setia menemani peternak dengan kematian ayam yang cukup tinggi, tetapi juga semakin cerdik dengan adanya jenis baru yang menurunkan produksi telur hingga 50 persen.

Selain itu, fluktuasi harga DOC (anak ayam umur satu hari), pakan ternak dan harga telur juga menjadi cobaan terbesar bagi kami untuk terus bertahan menjadi peternak disamping kesiapan menghadapi pasar bebas dengan tuntutan kualitas produk yang mampu bersaing.

Ia menjelaskan, berkaca pada peternak broiler mandiri yang banyak gulung tikar karena permainan bisnis yang tidak sehat dan tidak mampu bangkit lagi.

Pihaknya menyadari bahwa peternak layer tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, harus bersatu dan ada wadahnya untuk menampung semua aspirasi peternak, sekaligus memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi.

Karena itu, hadirnya PPN Lampung sebagai asosiasi peternak petelur memberi harapan baru untuk menjadikan PPN Lampung sebagai rumah bersama, bersatu dan berjuang bersama untuk terus hidup sebagai peternak.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Kusnardi, mengapresiasi kegiatan media fellowship 2019 yang dinisiasi Badan Pangan Dunia (FAO), Kementerian Pertanian bekerjasama dengan LKBN Antara.

Menurut dia, keamanan pangan di Lampung, khususnya telur sudah cukup baik karena telah dilengkapi sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV).

NKV, lanjut dia, sebagai bukti tertulis yang sah telah dipenuhinya persyaratan higienesanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan pangan asal hewan pada unit usaha pangan asal hewan.

Namun demikan, ia menjelaskan masih banyak peternak di Lampung yang belum memiliki sertifikat NKV. "Berdasarkan data baru enam perusahaan peternak yang memiliki NKV," tambahnya.

Ia menambahkan, pengurusan NKV tidak dipungut biaya asalkan telah memenuhi syarat-syarat yang diperlukan.

Pada acara betema "Tantangan Baru dalam Menanggulangi Zoonosis, EIDs, dan AMR di Indonesia", hadir 16 jurnalis dari berbagai media sebagai peserta.

Hadir juga Luuk Schoonman (Chief Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia) dan sejumlah pengusaha peternak petelur di Lampung.

Baca juga: Mendag sebut kenaikan batas acuan harga telur, realistis
Baca juga: FAO kembangkan aplikasi untuk peternak ayam petelur

Pewarta: Agus Wira Sukarta
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

FAO dukung optimalisasi lahan rawa demi ketahanan pangan

Komentar