counter

Tenis

Indonesia perlu belajar soal dukungan petenis ke Taiwan, kata Christo

Indonesia perlu belajar soal dukungan petenis ke Taiwan, kata Christo

Petenis putra nasional Christopher Rungkat saat melakukan wawancara ekslusif untuk Antara TV di Jakarta, (12/7/2019). pada ganda campuran yang berpasangan dengan petenis Jepang, Shuko Aoyama bertahan hingga putaran kedua. ANTARA/Arif Ariadi/spt

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia dinilai perlu belajar kepada Taiwan mengenai pola dukungan terhadap kiprah atlet tenisnya, demikian diungkapkan salah satu petenis nasional Christopher Rungkat.

Hal itu, berkaca pada pengetahuan pendek Christo atas perlakuan yang diterima pasangan ganda putranya asal Taiwan, Hsieh Cheng-peng, yang mendapatkan dukungan cukup fleksibel dari pemerintah negaranya.

"Kalau berkaca dari Hsieh, pasangan ganda saya, tentu saya tidak tahu persis nominal dukungan yang diperoleh, namun sisi positifnya adalah pola dukungan mereka lebih fleksibel," kata Christo saat menyambangi redaksi Antara di Jakarta, Jumat.

"Karena dia juga bela negaranya di Asian Games, sehingga dukungannya jelas tapi lebih fleksibel di luar Asian Games," ujarnya menambahkan.

Christo mengaku bahwa di luar ajang multicabang seperti Asian Games atau SEA Games, ia harus menempuh langkah berbelit-belit jika ingin mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Antara lain pengajuan harus dilakukan jauh-jauh hari bahkan hitungan tiga bulan atau lebih.

"Padahal tenis itu sangat dinamis. Seumpamanya, saya kan juga tidak tahu pasti bakal main di French Open kemarin sebulan sebelum turnamen dimulai," katanya.

"Jadi card baru muncul 10 hari sebelumnya, dan kalau saya harus menunggu dukungan pemerintah, mungkin saya harus ajukan tiga bulan sebelumnya, itu sulit buat saya untuk mengikuti birokrasi semacam itu," ujar Christo melengkapi.
 

Christo berpikir mungkin ada solusi yang bisa ditempuh, yakni penunjukkan atau pewajiban BUMN untuk bukan saja menjadi ayah asuh cabang olahraga tertentu tapi langsung spesifik atletnya.

"Misal BUMN mendukung untuk satu tahun penuh, dengan penjadwalan dan target tertentu, didukung 100 persen. Termasuk pelatih, timnya, pelatih fisik, fisioterapis dan sebagainya," ujarnya.

"Dengan cara itu lebih efisien dan enak, daripada harus menunggu lewat Menteri Pemuda dan Olahraga, penganggaran dan menanti-nanti pencairan, itu ribet dan perlu waktu yang lama," kata Christo.

Oleh karena itu, selama ini Christo jauh lebih terbiasa berjalan hampir sendirian dengan mencari sponsor jika memungkinkan ketimbang menanti dukungan pemerintah dalam perjuangannya menembus panggung tenis dunia.

Christo dan Hsieh sebagai pasangan ganda putra baru saja tampil di putaran kedua French Open 2019 pada Juni dan putaran pertama Wimbledon 2019 sebulan berselang. Christo juga merumput di Wimbledon 2019 dalam nomor ganda campuran berpasangan dengan petenis Jepang Shuko Aoyama hingga putaran kedua.

Baca juga: Christo, Jakarta dan hilangnya kompleks tenis bersejarah

Baca juga: Christo sedih dan kecewa, "rumah" tempat tumbuhnya dibongkar

Baca juga: Kembali ke nomor ganda, jadi jalan pulang Christo ke Grand Slam

​​​​​​​

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar