counter

Geliat Industri 4.0 menyumbang permintaan di sektor properti

Geliat Industri 4.0 menyumbang permintaan di sektor properti

Kepala Pemasaran Jones Lang LaSalle (JLL), Angela Wibawa (kedua kiri) bersama Kepala Ritel JLL, Cecilia Santoso (pertama kiri), Kepala JLL Indonesia, James Allan (tengah), Kepala Advisor, Vivin Harsanto (kedua kanan) dan Kepala Penelitian, James Taylor (pertama kanan) saat seminar Jakarta Property Market Update di Bursa Efek Indonesia Jakarta, Rabu (17/7/2019). (ANTARAnews/ Abdu Faisal)

Jakarta (ANTARA) - Geliat industri 4.0 turut menyumbang permintaan di sektor properti perkantoran di distrik bisnis pusat (Central Business District/ CBD) Sudirman kuartal pertama 2019.

Lembaga konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) memprediksi di kuartal kedua akan tetap menunjukkan tren positif untuk sektor properti perkantoran.

"Total penyerapan ruang perkantoran di triwulan kedua mencapai 24.000 m2 di kawasan CBD dengan perusahaan berbasis teknologi mengambil porsi sebesar 43 persen," ujar Kepala Pemasaran JLL, Angela Wibawa di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Rabu.

Salah satu industri teknologi yang perkembangannya cepat adalah e-commerce. "Mereka butuh warehouse, itu juga satu hal yang memacu permintaan di sektor industri teknologi berkembang sangat cepat," kata Angela.

Ia mengungkapkan akan ada perusahaan besar di sektor e-commerce dari luar negeri yang melihat peluang melakukan ekspansi ke berbagai daerah di Indonesia

"Kemarin ada satu permintaan yang kita lihat bahwa permintaan untuk call centre atau back office. Nama perusahaannya masih rahasia," ujar dia.

Angela mengatakan selain Jakarta, peminatan ekspansi e-commerce luar negeri itu juga melihat ke daerah Yogyakarta dan Semarang.

Dilihat dari keinginan membuat kantor untuk call centre dan back office itu, tren perusahaan teknologi akan bergeser ke sektor perkantoran co-working.

Co working atau ruang kerja bersama itu baru berkembang dua tahun terakhir. Sejauh ini kalau dilihat peta persaingan ada dua perusahaan yang mendominasi co hive dan we work.

"Co hive adalah perusahaan yang lebih agresif mengekspansi karena punya kantor headquarters sendiri di Kuningan," ujar dia.

Baca juga: Tantangan berat koperasi di daerah hadapi era Industri 4.0

Baca juga: Kepala BPPT: Inovasi KBL dorong kesiapan Indonesia hadapi industri 4.0

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Implikasi industri 4.0 pada Kementerian ESDM

Komentar