counter

Piala Afrika

Suporter Aljazair menangi tarung politik, saatnya juara Piala Afrika

Suporter Aljazair menangi tarung politik, saatnya juara Piala Afrika

Salah seorang suporter tim nasional Aljazair yang menyaksikan langsung pertandingan semifinal Piala Afrika 2019 melawan Nigeria di Stadion Internasional Kairo, Mesir, Minggu (14/7/2019) setempat. (ANTARA/REUTERS/Sumaya Hisham)

Jakarta (ANTARA) - Suporter tim nasional Aljazair turut berperan dalam keberhasilan warga negara itu memenangi pertarungan politik menghadapi rezim yang berkuasa lama baru-baru ini, namun kini saatnya bagi mereka berharap menyaksikan negaranya menjuarai Piala Afrika 2019.

Aljazair akan menghadapi Senegal dalam partai final Piala Afrika 2019 di Stadion Internasional Kairo, Mesir, Sabtu (20/7) dini hari WIB.

Pada April lalu, suporter Aljazair berperan atas keputusan mundurnya Presiden Abdelaziz Bouteflika setelah hampir dua dasawarsa berkuasa, menyusul rangkaian demonstrasi mingguan tiap Jumat menolak ia dicalonkan kembali.

Saat Aljazair mengalahkan Kenya dalam laga pertama Piala Afrika 2019 di Mesir, seorang suporter ditangkap karena kedapatan membawa spanduk bertuliskan "Enyahlah kalian" slogan khas gerakan antipemerintah Aljazair. Ia kemudian dideportasi dari Mesir dan dijatuhi hukuman kurungan setahun.

Pada Minggu (14/7) dalam laga semifinal kontra Nigeria di suporter Aljazair di tribun Stadion Internasional Kairo menyanyikan potongan lagu "La Casa del Mouradia" mars khas demonstran yang merujuk kepada Istana Kepresidenan Aljazair.

Lantas pada Selasa (16/7) Riyad Mahrez dan kawan-kawannya di timnas Aljazair berlatih diiringi yel-yel potongan lagu "La Liberte" milik rapper Aljazair Soolking, yang juga kerap dinyanyikan dalam aksi demonstrasi mingguan di Aljazair.

Baca juga: TV Annahar: Ketua Parlemen Aljazair Bouchareb undurkan diri

Baca juga: Ratusan ribu orang kembali turun ke jalan di Aljazair


Aksi demonstrasi telah berlangsung 21 Jumat beruntun sejak Februari dan tribun penonton di stadion sepak bola di seantero Aljazair punya peran atas itu.

Pengajar ilmu sosial dan manajemen olahraga Universitas Qatar, Mahfoud Amara, menyatakan bahwa aksi protes di tribun pertandingan olahraga bukan barang baru apalagi bagi Aljazair.

"Sejak 1970-an, tribun stadion selalu jadi panggung ekspresi warga Aljazair, mungkin lebih kerap terjadi dibandingkan negara-negara lain yang punya aturan sensor lebih ketat," katanya dilansir AFP.

"Tribun stadion jadi tempat mereka bisa menantang rezim serta meruntuhkan tabu di Aljazair," ujarnya menambahkan.

Menurut Amara, para suporter Aljazair sedikit banyak berkontribusi menjadi corong suara rakyat tiap kali ada kegundahan atas situasi politik di negaranya.

Terkadang slogan-slogan berbau olahraga juga kerap digunakan dalam aksi demonstrasi di jalanan, seperti "Ini bukan pertandingan, tak ada waktu tambahan" serta "Rakyat 3, Penguasa 0".

Sedikitnya 4.800 warga Aljazair tambahan akan ikut memadati tribun Stadion Internasional Kairo yang diterbangkan dengan pesawat militer oleh Perdana Menteri Noureddine Bedoui, yang belakangan juga jadi sasaran aksi demonstrasi warga.

Para suporter itu, yang sudah membantu warga Aljazair meraih kemenangan politik melawan Bouteflika tahun ini, tentu akan berharap bisa menyaksikan para pemain kebanggaan mereka mengangkat trofi Piala Afrika kedua setelah 1990 di tanah sendiri.

Baca juga: Belmadi serukan suporter Aljazair di Prancis jadi duta yang baik

Baca juga:
Senegal tegaskan kekalahan dari Aljazair di fase grup jadi bahan bakar

Baca juga: Dua sahabat bertempur jadi yang terbaik di Afrika

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar