counter

BPBD Tulungagung imbau warga tidak "termakan" hoaks tsunami

BPBD Tulungagung imbau warga tidak "termakan" hoaks tsunami

Foto kolase situasi kepanikan warga saat isu tsunami merebak di Pantai Sine, Tulungagung, Jumat (19/7/2019) malam. ANTARA/HO/pri

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memastikan isu tsunami yang sempat beredar dan memicu kepanikan warga pesisir Pantai Sine pada Jumat (12/7) malam adalah 100 persen hoaks (bohong).

"Ada yang sengaja memelintir informasi dan imbauan yang disampaikan tim BNPB (Bada Nasional Penanggulangan Bencana Nasional) di lapangan," kata Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Suroto dikonfirmasi melalui telepon, Sabtu.

Hoaks tentang tsunami memang sempat mengiringi kedatangan tim Ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana Tsunami) yang digelar tim BNPB di sepanjang pesisir selatan Jawa, mulai pesisir Banyuwangi di Jatim hingga pesisir Pandeglang di Banten.

Baca juga: Legislator: usut penyebar berita bohong tsunami di Maluku Utara

Saat tiba dan mulai beranjak dari Tulungagung pada Jumat (19/7), informasi tentang potensi tsunami dan imbauan kewaspadaan menghadapi ancaman tsunami dalam skala besar justru "digoreng" oknum warganet untuk menyebar kabar bohong.

Seperti di kawasan wisata Pantai Sine, Jumat (19/7) malam, ratusan bahkan ribuan warga dibuat panik dan meninggalkan arena hiburan jaranan di balai TPI Pantai Sine karena beredar informasi akan ada tsunami maha dahsyat melanda pesisir selatan Tulungagung.

Akibatnya, acara tontonan rakyat yang diprakarsai kelompok mahasiswa KKN itu buyar. Warga semburat menyelamatkan diri ke gunung-gunung dan tempat lebih tinggi.

Baca juga: Pakar komunikasi ajak mendeteksi berita hoaks di medsos

"Video yang beredar seolah ada ikan-ikan terdampar dengan pantai surut itu juga gambar lama. Lokasinya juga bukan di sini (Tulungagung). Kabar tsunami itu hoaks, masyarakat sebaiknya tenang karena sejauh ini bencana tsunami belum bisa diprediksi secara pasti," katanya.

Seorang warga Sine yang dikonfirmasi mengatakan warga mulai panik karena ada yang teriak datangnya tsunami.

Situasi sempat mencekam selama beberapa jam hingga dini hari, sampai akhirnya petugas dan perangkat datang memberi imbauan untuk tenang dan menyatakan bahwa kabar tsunami adalah hoaks.

"Mungkin warga menanggapi berlebihan imbauan dan peringatan dini yang kami lakukan. Ya itu wajar saja akibat kecanggihan media sosial sekarang," kata Suroto.

Dijelaskan, dalam Ekspedisi Destana, total ada 584 desa pesisir yang dikunjungi dan diproyeksikan menjadi desa tangguh bencana, termasuk yang ada di pesisir Blitar, Tulungagung dan Trenggalek.

Di Tulungagung sendiri, ada enam kawasan desa pesisir yang dikunjungi tim Ekspedisi Destana, mulai dari Desa Besole, Besuki, Kalibatur, Ngerjo, Jengglunggarjo dan Keboireng.

Tim bergerak dari Blitar menuju Tulungagung dan disambut di halaman kantor Kecamatan Tanggunggunung.

Sempat dilakukan seremoni penerimaan oleh jajaran BPBD Tulungagung, tim Ekspedisi Sestama didampingi relawan desa tangguh bencana melakukan sosialisasi ke kelompok-kelompok warga yang ditemui di seluruh desa pesisir yang dikunjungi.

Hasilnya, meski diklaim efektif dalam menyosialisasikan fakta adanya patahan besar di pesisir selatan Jawa dan potensi terjadinya "megatrust" atau gempa besar yang bisa memicu tsunami, penyebaran informasi dan gerakan edukasi itu justru memantik ketakutan berlebihan warga sehingga beredar hoaks tentang akan terjadinya gelombang tsunami mahadahsyat di pesisir selatan daerah itu, termasuk di Tulungagung. 


 

Tim Ekspedisi Destana gelar simulasi tsunami

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar