counter

1.200 warga Bogor Timur kepung gedung DPRD kawal rapat pemekaran

1.200 warga Bogor Timur kepung gedung DPRD kawal rapat pemekaran

Sebanyak 1.200 warga menggunakan empat bus dan 120 mobil pribadi datang ke Gedung DPRD Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (22/7/2019). (ANTARA/M Fikri Setiawan).

Kita terus mengawal sampai keluar Kepres
Cibinong, Bogor (ANTARA) - Sekitar 1.200 warga wilayah Timur Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengepung gedung DPRD Kabupaten Bogor, Senin, guna mengawal rapat paripurna pengesahan Daerah Otonomi Baru (DOB) Bogor Timur.

Ketua Umum Presidium Bogor Timur, Alhafiz Rana di Bogor, Senin, menyebutkan, sebanyak 1.200 warga itu datang menggunakan empat bus dan 120 mobil pribadi dengan titik kumpul di Metland Cileungsi, Kabupaten Bogor.

"Sebanyak 1.200 orang ini perwakilan dari 75 desa tujuh kecamatan, terdiri dari Organisasi Masyarakat (Ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) se-Bogor Timur. Mereka antusias menanggapi, persetujuan bersama," ujar Alhafiz saat diwawancarai  di lokasi.

Setelah disepakati bersama antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor bersama DPRD Kabupaten Bogor pada Senin ini, selanjutnya prosesnya berlanjut ke DPRD Provinsi Jawa Barat dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Jika disetujui, prosesnya akan berlanjut ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

"Ketika ada persetujuan dengan DPRD Provinsi Jawa Barat, langsung ke Kemendagri. Kita terus mengawal sampai keluar Kepres," ujarnya.

Menurutnya, DOB Bogor Timur perlu diwujudkan mengingat luasnya wilayah Kabupaten Bogor. Sehingga, dengan terwujudnya DOB Bogor Timur akan mempermudah pelayanan publik bagi masyarakat Bogor Timur.

Ada tujuh kecamatan di Kabupaten Bogor yang akan menjadi DOB Bogor Timur, tujuh kecamatan itu antara lain, Jonggol, Cariu, Cileungsi, Tanjungsari, Klapanunggal, Gunungputri dan Sukamakmur.

Rencananya, Kecamatan Jonggol akan menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor Timur.


Baca juga: Jabar dorong pemekaran tiga wilayah
Baca juga: Pemekaran Bogor barat bisa jadi prioritas
 
 

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar