Anak tukang kayu jadi lulusan terbaik UHO

Anak tukang kayu jadi lulusan terbaik UHO

Ardot lulusan terbaik Universitas Halu Oleo pada wisuda gelombang I, periode April-Juli 2019, dari jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ardot merupakan anak seorang tukang kayu di Desa Bangunsari, Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna, Sultra. (Foto ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Mahasiswa dari Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo (UHO), Ardot (22), menjadi lulusan terbaik di UHO dan berhasil menyelesaikan kuliah dengan nilai sempurna.

Mahasiswa asal Desa Bangunsari, Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna itu lulus dengan predikat pujian, dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.0 dan lama studi tiga tahun sembilan bulan.

Anak pertama dari dua orang bersaudara ini membocorkan rahasia sehingga dirinya bisa mendapat predikat cumlaude pada wisuda, Senin 29 Juli 2019.

Menurut Ardot, dukungan dan motivasi dari kedua orang tua adalah yang utama sehingga dirinya bisa menjadi lulusan terbaik di Universitas Halu Oleo periode April-Juli 2019.

"Alhamdulillahirabbillalamin, ketercapaian ini saya dedikasikan untuk kedua orang tua saya, kaerna mereka berdua adalah motivator hebat dalam hidup saya, sehingga saya bisa terpilih dan dipercayakan menjadi wisudawan terbaik periode April - Juli 2019 gelombang pertama ini" kata Ardot dengan penuh rasa bahagia.

Ardot mengatakan, meskipun ayahnya hanya berprofesi sebagai tukang kayu dan dalam hidupnya tidak pernah tersentuh dengan dunia pendidikan, sementara ibunya hanya seorang guru honorer di TK di sebuah desa, tetapi kedua orang tuanya sangat mendukung agar anak-anaknya bersekolah dan melanjutkan studi di perguruan tinggi dengan harapan bisa menjadi lebih baik dari mereka.

"Ucapan yang sering ke luar dari ayah saya bahwa beliau tidak bisa menjaminkan kemewahan kepada kami anak-anaknya tapi in syaa Allah bisa menjaminkan pendidikan" katanya.
Acara wisuda gelombang I, periode April-Juli 2019, Senin (29/7/19). (Foto ANTARA/Harianto)


Dalam kesempatan itu dia juga mengatakan, dirinya bisa meraih IPK 4.00, karena adanya motivasi, target, impian, metode, dan cara belajar yang terus dia tekuni.

"Bagi saya tidak ada pencapaian tanpa perjuangan, tak ada hasil tanpa proses, apapun predikatnya itulah yang terbaik untuk kita dan apa yang kita peroleh hari ini adalah cerminan dari perjuangan setelah sekian lama berjuang bergelut dengan dunia perkuliahan," jelasnya.

Usai wisuda, Ardot berniat ingin melanjutkan studi S2, namun keinginan itu terhenti karena dihadapkan persoalan dana dan biaya.

"Kalaupun ada rezeki dan dapat beasiswa in syaa Allah lanjut. Mungkin belum sekarang, entah tahun depan ataupun dua tahun depan. Karena saya punya beban moral sebagai anak pertama, apalagi adik saya juga ingin kuliah, jadi saya harus membantu ayah saya untuk membiayai adik saya," katanya.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar