UI akan bangun perpustakaan di Desa Paras kembangkan ekowisata budaya

UI akan bangun perpustakaan di Desa Paras kembangkan ekowisata budaya

Foto: Dokumentasi Tim Pengmas Perpustakaan Desa Pracimoharjo. (Megapolitan.antaranews.com/Foto: Feru Lantara)

Masyarakat dibekali dengan ketrampilan literasi informasi dan literasi digital dan dengan kemampuan ini, masyarakat Desa Paras dapat lebih mengenalkan desanya beserta kekayaan warisan budaya dan potensi desa yang lain.
Depok (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) akan membangun sebuah perpustakaan di Desa Paras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang bertempat di Pesanggrahan Pracimoharjo untuk menguatkan dan menambah daya tarik ekowisata budaya di desa tersebut.

"Perpustakaan unik ini direncanakan akan menjadi situs tempat menyimpan berbagai artefak budaya dan objek informasi yang terkait dan sekaligus sebagai ruang peleburan cakrawala (fusion of horizons) budaya dari para budayawan, penggiat naskah dan masyarakat yang peduli pada warisan budaya," kata Ketua Pengabdian masyarakat (Pengmas) UI Dr. Taufik Asmiyanto di kampus UI Depok, Jawa Barat, Jumat.

Menurut dia. kepedulian dan kerja sama berbagai pihak dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah kawasan wisata budaya berbasis informasi yang dijadikan sebagai model dalam mengembangkan ekowisata budaya di desa.

"Keberhasilan program ini belum dapat terlihat secara nyata pada tahun pertama, namun setidaknya diharapkan dapat menggunggah kesadaran pemerintah dan masyarakat akan potensi ekowisata budaya sebagai penopang perekonomian desa," jelasnya.

Universitas Indonesia menyadari sepenuhnya hal ini, melalui kegiatan pengabdian masyarakat digagas program strategis di Desa Paras dengan mendayagunakan seluruh potensi ekonomi yang telah ada.

Ia mengatakan bahwa dirinya beserta tim sedang mengembangkan sebuah program pengabdian masyarakat berupa pengembangan ekowisata budaya berbasis informasi.

Pengembangan ekowisata budaya ini katanya dibangun di atas infrastruktur budaya yang telah ada dan sederetan kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan dan menguatkan kapasitas pengetahuan dan ketrampilan masyarakat desa sehingga mereka dapat lebih menjual dan mempromosikan aset budaya yang dimilikinya.

"Masyarakat dibekali dengan ketrampilan literasi informasi dan literasi digital dan dengan kemampuan ini, masyarakat Desa Paras dapat lebih mengenalkan desanya beserta kekayaan warisan budaya dan potensi desa yang lain," katanya.

Letak Desa Paras yang strategis, baik dilihat secara geografis, di kaki Gunung Merapi dan daerah yang dilintasi jalur pariwisata Solo-Selo-Borobudur serta simpanan warisan budayanya ini, sudah barang tentu sarat akan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan sebagai penopang perekonomian desa. Keunggulan ini tentu saja tidak akan mendatangkan keberuntungan dan kebaikan jika warga setempat tidak menyikapinya dengan arif dan bijak.

Baca juga: UI kembangkan ekowisata di kampung nelayan Bungin Bekasi

Melihat hal itu, perlu ada program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk mendukung tumbuhnya perekonomian di Desa Paras.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah menguatkan kapasitas pengetahuan, kesadaran, dan ketrampilan masyarakat Desa Paras melalui serangkaian kegiatan pembekalan pengetahuan dan ketrampilan yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuan warganya dalam berwirausaha.

Kota Boyolali adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang dikenal sebagai penghasil susu. Bahkan, kota ini merupakan kota penghasil susu terbesar di Jawa Tengah. Beragam produk berbahan dasar susu telah banyak diproduksi oleh kota ini bahkan telah diekspor ke mancanegara dan berhasil menembus pasar Eropa.

Kemiripan kota ini dengan negeri penghasil susu di Selandia Baru, menjadikan Boyolali kerap dijuluki sebagai New Zealand van Java.

Salah satu desa yang berkontribusi dalam geliat ini adalah Desa Paras. Sebuah desa yang terletak di sebelah timur Gunung Merapi dan Merbabu ini selain sebagai salah satu desa penghasil susu dan olahan susu, ternyata juga menyimpan harta karun terpendam berupa warisan budaya.

Bahkan, di desa ini terdapat sebuah petilasan, tempat peristirahatan raja-raja keraton Surakarta, yang awalnya dibangun oleh Sunan PB VI pada tahun 1803-1804.

Kemudian, pada pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X pada 1893-1939, pesanggrahan ini kembali dibangun dan bahkan, menurut cerita, karena megahnya pesanggrahan ini kerap dikatakan sebagai miniatur Keraton Surakarta.
Baca juga: Guru Besar UI: Bukan cadangan migas yang habis melainkan ide




.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perahu terbalik di Waduk Kedungombo, 6 wisatawan meninggal dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar