Kabul (ANTARA News/AFP) - Satu tentara Amerika Serikat tewas akibat serangan Taliban di Afganistan selatan, kata Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO pada Selasa.

"Satu tentara Amerika Serikat tewas akibat serangan pemberontak di Afganistan selatan kemarin," katanya dalam pernyataan, yang tidak memberi rincian lain.

Afganistan selatan adalah pusat perlawanan pimpinan Taliban, yang pada tahun kesembilannya meningkatkan korban semakin banyak atas lebih dari 100.000 tentara asing, yang disebarkan di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan NATO.

Kematian tentara asing pada tahun ini di Afganistan mencapai 481, termasuk 297 orang Amerika Serikat, kata hitungan laman icasualties.org.

Sementara itu, pada seluruh 2008, korban tewas di kalangan tentara asing 295 orang.

Lebih dari separuh korban tahun ini adalah warganegara Amerika Serikat.

Serangan gerilyawan dan bom menewaskan empat prajurit Amerika Serikat di Afghanistan, kata ISAF pada Senin.

Dua orang tewas akibat bom di jalan dan yang ketiga tewas dalam serangan pada Minggu, sementara prajurit keempat tewas akibat ledakan pada Senin, kata pernyataan ISAF.

"Empat prajurit ISAF tewas dalam 24 jam terkini di Afganistan," kata pernyataan itu. Seluruh korban adalah warganegara Amerika Serikat, tambahnya.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mempertimbangkan permintaan panglima lapangannya di Afganistan menaikkan jumlah tentara sampai 40.000 orang dan menyatakan keputusannya akan terungkap dalam beberapa pekan mendatang.

Siasat baru pertempuran itu termasuk mengalihkan tekanan dari pertempuran medan perang ke pelatihan dan pembimbingan pasukan keamanan Afganistan untuk mengambilalih pertempuran melawan Taliban.

Pokok siasat itu adalah maksud bahwa lebih cepat Afganistan dapat melakukan perjuangannya lebih cepat tentara asing --100.000 di antaranya di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO-- dapat dikurangi untuk kemudian keluar.

Dukungan untuk tugas Amerika Serikat di Afganistan merosot sampai dasar baru, dengan 44 persen dari warga negara adidaya itu menyatakan nilai perang itu sepadan dengan biayanya, kata jajak pendapat baru disiarkan pada Selasa.

Di antara peningkatan keterbelahan sikap atas yang pernah menjadi salah satu masalah utama politik luar negeri Presiden Barack Obama, jajak pendapat "Washington Post" dan ABC News itu juga menunjukkan peringkat untuk caranya mengurus tugas di sana terkikis, dengan 45 persen menyetujui caranya berurusan dengan Afganistan dan 47 mencela, sementara pada tahun lalu 63 persen setuju.

Angka itu muncul saat Obama bergulat dengan mengirim atau tidak tambahan tentara Amerika Serikat ke Afganistan untuk meningkatkan perang melawan peningkatan perlawanan pimpinan Taliban, hanya sepekan sesudah singgah di pangkalan tentara Amerika Serikat di Alaska pada awal perjalanan Asia-nya ketika mengatakan kepada tentaranya bahwa ia akan mendapat dukungan rakyat di dalam negeri bagi tugas tersebut.

Hanya 44 persen sekarang menyatakan perang di Afganistan layak dilakukan --yang paling sedikit sejak awal 2007-- dan 52 persen mengatakan itu tidak pantas, naik 13 angka dari dasar pada Desember lalu, kata bagian jajak pendapat penyalur berita tersebut.(*)