Lombok (ANTARA News) - Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Papua dinilai membutuhkan komitmen operator agar masyarakat di wilayah itu memiliki ragam pilihan komunikasi dalam mengakses informasi.

"Komitmen operator sangat diperlukan untuk mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi di wilayah Papua, karena dari lima operator seluler hanya Telkomsel yang konsisten mengembangkan layanan hingga ke pelosok Bumi Cendrawasih itu," kata pemerhati industri telekomunikasi yang anggota Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional (Wantiknas), Garuda Sugardo, ketika dihubungi di Lombok, Kamis.

Menurut Garuda, sejak dua puluh tahun lalu hingga kini seiring dengan pergantian Menteri Perhubungan/Menkominfo terus berusaha mengatasi kesenjangan itu, namun kondisinya tetap seperti saat ini pilihan layanan komunikasi terbatas.

"Karenanya, ketika Menkominfo era Presiden Jokowi mencari solusi dengan mengeluarkan jurus best practice, pantas diacungi jempol. Kita tunggu hasilnya," jelasnya.

Garuda yang dijuluki "Bapak Seluler Indonesia" ini menceritakan bahwa di saat Orde Baru, Telkomsel hanya membutuhkan waktu 18 bulan untuk membangun jaringan ke seluruh 27 provinsi.

Faktanya, hingga kini operator seluler yang sahamnya mayoritas dimiliki asing yaitu Indosat, XL, Tri, dan Smartfren, masih enggan berkiprah di wilayah Timur Indonesia, karena masih terus berharap memperoleh fasilitas "network sharing" (berbagi jaringan) dari Telkom dan Telkomsel.

"Sah-sah saja jika operator asing itu ingin network sharing, tapi dasarnya adalah hitungan untung-rugi bisnis karena wilayah Papua penduduknya tidak banyak. Bagi saya, kunci penggelaran jaringan di Papua adalah komitmen sebagai anak bangsa dan rasa mencintai Papua," tegasnya.

Menurut catatan, TelkomGrup menjadi operator yang dominan di Indonesia bagian Timur, dengan basis pelanggan seluler di Papua dan Maluku sekitar 5,251 juta nomor, sedangkan populasi yang terjangkau adalah 4,2 juta jiwa dari total penduduk 5,8 juta jiwa.

Khusus di Papua, TelkomGrup memiliki 1,78 juta pelanggan seluler yang dilayani sekitar 1.046 BTS. Sedangkan layanan IndiHome mencapai 7.155 pelanggan di mana sebanyak 2.805 pelanggan diantaranya berada di Jayapura. Adapun pelanggan telepon tetap mencapai 28.000 satuan sambungan.

Sementara itu, VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo mengatakan, pembangunan infrastruktur merupakan kewajiban bagi perusahaan telekomunikasi dan kunci keberhasilan menguasai layanan di Indonesia Timur, karena TelkomGrup konsisten membangun infrastruktur sebagai pondasi untuk menjaga kelanjutan bisnis di tengah gempuran pesaing dan pemain "over the top" (OTT).

"Sudah tidak jaman lagi perusahaan telekomunikasi hanya mengandalkan alat produksi berteknologi usang sebagai pendorong utama pendapatan. Karena itu kami terus melakukan transformasi infrastruktur untuk memberikan layanan yang terbaik sebagai customer experience bagi pelanggan dan mendorong digital business," ujar Arif.

Diungkapkannya, pada tahun 2016 telah menyelesaikan tulang punggung pita lebar proyek SEA-ME-WE 5, jaringan kabel optik bawah laut dari Dumai ke Marseille Perancis melalui Asia Tenggara dan Timur Tengah yang akan membawa Indonesia menjadi pusat traffic-hub dunia. Selanjutnya, jaringan kabel optik bawah laut Makasar, Kendari, Maumere sekitar 1.700 km yang merupakan fase terakhir bagian dari pembangunan Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS).

"Total jaringan backbone yang sudah kami bangun mencapai 106.000 km lebih atau 2.5 kali keliling bumi. Kalau di level akses, Telkomsel punya 130.000 BTS, jaringan serat optik ke rumah sebanyak 16 juta homepass, dan lima juta diantaranya dibangun di 2016," paparnya.

Memasuki tahun 2017, TelkomGroup tetap ekspansif membangun jaringan tulang punggung di antaranya segera meluncurkan Satelit Telkom 3S, menyelesaikan kabel laut SEA-US sepanjang lebih dari 14.000 km, dan membangun 19 jaringan tulang punggung optik di 19 kabupaten.

Salah satu prioritas adalah membangun Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Manokwari-Jayapura sebagai jaringan cadangan bagi SMPCS untuk mengantisipasi terputusnya jaringan karena faktor alam. Jaringan sepanjang 1.000 km sebagai link diversity dalam upaya recovery gangguan trafik berulang antara Jayapura dan Sarmi.

"Kami senang kalau ada operator lain mau bersama Telkom menyediakan jaringan tulang punggung di Indonesia bagian Timur ini, agar ada pilihan dan sama-sama membangun anak bangsa," ujar Arif.

(R017)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017