counter

Kabid Dinkes: Penyakit Pneumonia pembunuh Balita kedua di dunia

Kabid Dinkes: Penyakit Pneumonia pembunuh Balita kedua di dunia

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sultra, drg. Hj Heny Triviani. (ANTARA/Harianto)

Karena besarnya kematian Pneumonia ini, disebut sebagai pandemi yang terlupakan atau 'the forgitten pabdemic',
Kendari (ANTARA) - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes), Sulawesi Tenggara (Sultra), drg. Hj Heny Trivianinas mengatakan penyakit Pneumonia merupakan pembunuh Balita kedua di dunia termasuk di Indonesia dan di wilayah Sultra sendiri.

"Jumlah balita yang meninggal akibat Pneumonia lebih banyak dibanding dengan gabungan penyakit seperti AIDS, malaria dan campak," ujar dia di Kendari, Jumat.

Di dunia, lanjutnya setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta Balita meninggal karena Pneumonia (1 Balita/20 detik) dari 9 juta total kematian Balita.

Baca juga: Menguak fenomena pneumonia balita Jakarta

"Karena besarnya kematian Pneumonia ini, disebut sebagai pandemi yang terlupakan atau 'the forgitten pabdemic', namun tidak banyak perhatian terhadap penyakit ini, padahal cakupan penemuan Pneumonia pada Balita tahun 2017 dan 2018 adalah 22,57% sampai 36,85%, dimana angka tersebut masih jauh dari target nasional yaitu 70% sampai 85%," jelasnya.

Faktor risiko ISPA dan Pneumonia adalah kurangnya ASI eksklusif, kekurangan gizi, tidak mendapat imunisasi campak, berat badan lahir rendah dan paparan polusi udara dalam rumah.

"Penanggulangan Pneumonia pada Balita diantaranya dengan pendekatan keluarga yaitu Promotif antara lain, Aksi eksklusif, Gizi seimbang, PHBS (PTPS), mengurangi polisi udara, etika batuk, dan deteksi dini, selanjutnya preventif yaitu imunisasi antara lain DPT, campak, Hib, pneumokok (demonstrasi di 2kab lotim dan lobar," terangnya.

Baca juga: Asap rokok picu Pneumonia pada balita

Selanjutnya penguatan pelaksana diantaranya diagnostik antara lain hitung pernafasan, lihat tarikan dinding dada bawah ke dalam, periksa saturasi oksigen, selanjutnya kuragif antara lain pemberian antibiotik yaitu amoksilin dan terapi oksigen

Menanggapi bahaya Pneumonia, beberapa upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Sultra yaitu penyediaan pedoman-pedoman, dukungan alat kesehatan, media KIE, pelatihan dan koordinasi atau kerjasama lintas program dan sektor terkait.

Untuk diketahui, Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Pneumonia juga merupakan bagian dari ISPA.

Baca juga: RSUD Sawah Besar tangani 35 kasus pneumonia balita di tahun 2019

 

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar