Kapolda Riau gunakan aplikasi "Lancang Kuning" penanggulangan Karhutla

Kapolda Riau gunakan aplikasi "Lancang Kuning" penanggulangan Karhutla

Dari kiri Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani, Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi dan Dirtipidter Mabes Polri Brigjen Muhammad Fadhil Imran memberikan keterangan pers terkait penyelidikan lima perusahaan terkait Karhutla di Riau, Jumat (11/10). (Anggi Romadhoni)

Pekanbaru (ANTARA) - Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi memperkenalkan aplikasi "Lancang Kuning" yang kini digunakan instansi Polri untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau.

"Aplikasi Lancang Kuning ini bukan hanya untuk mendeteksi Karhutla, tapi juga untuk mempercepat penanganan," kata Irjen Pol Agung Setya pada saat seminar bertema menangkal hoaks di Kota Pekanbaru, Selasa.

Baca juga: Satgas: Tiga heli pemadam karhutla dipindahkan dari Riau

Ia menjelaskan, aplikasi tersebut berbasis teknologi yang terkoneksi langsung ke satelit untuk memantau titik panas dan titik api Karhutla pada saat Karhutla terjadi atau "real-time". Setiap titik panas yang muncul di peta akan terdapat titik koordinat untuk bisa dilakukan pengecekan secepatnya oleh petugas di darat.

Selain itu, ketika titik panas itu disorot kursor, maka akan muncul jajaran kepolisian terdekat hingga petugas yang terdekat dari lokasi. Misalkan, kebakaran terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir, maka akan tertera Kepolisian Sektor terdekat dan petugas yang paling dekat ke titik panas.

Dengan begitu, petugas tersebut secara otomatis mendapat tugas untuk melakukan pengecekan dan penanggulangan Karhutla. Personel polisi juga bisa melakukan penyegelan dan penangkapan apabila ada indikasi kebakaran terjadi akibat unsur kesengajaan.

"Titik api paling dekat ke polsek mana, maka wajib untuk kerjakan tugas lakukan langkah pemadaman," katanya.

Baca juga: Konflik gajah Sumatera di Riau meningkat akibat kebakaran Tesso Nilo

Kapolda Riau berharap agar aplikasi Lancang Kuning bisa digunakan bersama oleh semua pemangku kebijakan mulai dari kepala daerah hingga masyarakat.

"Harapannya, saya bisa bicara dengan Gubernur Riau dan stakeholder lainnya seperti mahasiswa, dan masyarakat peduli api," katanya.

Ia mengatakan upaya penanggulangan kebakaran apabila tidak dikelola dengan baik bisa memicu disinformasi dan hoaks.

Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, satelit Terra Aqua pada Selasa pagi mendeteksi ada 689 titik panas yang jadi indikasi awal Karhutla di wilayah Sumatera. Daerah paling banyak titik panas adalah Sumsel, yakni 465 titik dan Jambi 170 titik panas.

Daerah lainnya ada di Bangka Belitung ada 23 titik, Lampung ada 17 titik, dan Riau paling sedikit karena hanya ada 14 titik panas.

Titik panas di Riau paling banyak di Kabupaten Indragiri Hilir 6 titik, Indragiri Hulu 4 titik, kemudian Pelalawan dan Kepulauan Meranti masing-masing ada dua titik panas.

Dari jumlah itu dipastikan ada tujuh titik api karhutla, paling banyak di Indragiri Hulu sebanyak tiga titik dan Meranti serta Indragiri Hilir masing-masing dua titik.

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

165.851 jiwa terselamatkan dari peredaran narkotika di Kepri

Komentar