Histori rock Indonesia, kiprah sang "Dewa Rock"

Oleh Alviansyah Pasaribu

Histori rock Indonesia, kiprah sang "Dewa Rock"

Produser Log Zhelebour (tengah) berpose bersama personil band Jamrud di Solo, Jateng, Selasa (10/7). (ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)

Jakarta (ANTARA) - Kesalahan fatal apabila tidak membahas peran Ong Oen Log alias Log Zhelebour dalam perjalan musik rock di bumi Nusantara. Lewat tangan dinginnya, ragam produk rock lahir di bawah bendera Log Zhelebour Production melalui Logiss Record.

Anak zaman sekarang mungkin tidak kenal Log, tapi dalam rak kaset generasi 1980 sampai 2000-an pasti tersimpan koleksi besutan Log Zhelebour. Sebut saja Jamrud, Boomerang, Elpamas, Power Metal, Mel Shandy, sampai Nicky Astria.

Banyak orang yang menyukai rock. Tapi, Log benar-benar menunjukkan cintanya kepada rock dengan membuat musik itu lebih bergema hingga diterima banyak orang.

Dalam buku "Rock 'n Roll Industri Musik Indonesia" oleh Theodore KS dengan pengantar Jakob Oetama pada 2013, disampaikan bahwa Log menginisiasi kompetisi musik rock bersama perusahaan rokok, bertema Djarum Super Rock Festival.

Festival yang digelar perdana pada 1984 itu mendapat gaung besar dan disambut meriah para pecinta rock. Pada episode kedua, lahirlah Elpamas asal Malang, Jawa Timur, sebagai juara.

Baca juga: Histori rock Indonesia, lahirnya musisi legenda
 
Band Jamrud (ANTARAFOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY)


Baca juga: Jejak kaum hawa dalam histori rock Indonesia

Edisi berikutnya tidak kalah menjanjikan setelah Grassrock (1986) dan Power Metal (1989) muncul sebagai juara.

Kiprah Log meroket saat menemukan dua "mutiara", Boomerang dan Jamrud muncul pada dekade 1990-an. Pada 1994, Boomerang dengan nama awal Lost Angels mendapatkan kesempatan rekaman oleh Logiss Record di Surabaya.

Kepercayaan Log kepada Boomerang membuat grup itu selalu merilis album tiap tahun, sejak 1994 hingga 2000, dengan total delapan album. Pada 1999, mereka rilis dua album sekaligus "Hard 'n Heavy" dan "Best Ballads" untuk merayakan kiprah lima tahun bermusik.

Setali tiga uang dengan Boomerang, Jamrud juga menjadi anak emas Log dalam Logiss record. Diawali dengan nama Jamrock yang kerap membawakan lagu band lain di atas pentas, mereka ubah nama menjadi Jamrud kemudian mendapat kesempatan rekaman pada 1995.

Album Nekad (1995) menjadi tonggak awal, diestafetkan ke album Putri (1997) dan Terima Kasih (1998). Album ketiga membuat Jamrud melesat bak roket di kancah musik rock Nusantara, apalagi setelah Log mengemas empat lagu menjadi video klip "Terima Kasih", "Dokter Suster", "Berakit-rakit", dan "Otak Kotor".

"Tidak dapat dipungkiri, Jamrud dan Boomerang, semua saya dengar. Mereka dan rock pada masanya adalah inspirasi," kata Gitaris Cokelat Edwin Marshal Syarief kepada ANTARA.

Oleh Alviansyah Pasaribu
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar