KPH Sivia Patuju kembangkan kopi robusta cegah deforestasi

KPH Sivia Patuju kembangkan kopi robusta cegah deforestasi

Kepala KPH Sivia Patuju, Firmansyah, memperlihatkan dua bungkus kopi robusta sebagai salah satu potensi HHBK di Kabupaten Tojo Una-una, di Palu, Jumat (1/11/2019). ANTARA/Muhammad Hajiji/am.

Palu (ANTARA) - Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sivia Patuju di Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah, mengajak petani mengembangkan kopi robusta yang berada dalam kawasan hutan wilayah KPH tersebut, sebagai bentuk upaya mencegah terjadinya perubahan fungsi lahan dan hutan (deforestasi).

"KPH berusaha dan terus melakukan stimulus (rangsangan) terhadap masyarakat yang telah berkegiatan dalam hutan dengan kegiatan pemberdayaan, seperti menanam kopi dan mengembangkan hasil pascapanen. Ini upaya untuk menjagah kelestarian dan fungsi hutan," ucap Kepala KPH Sivia Patuju, Firmansyah, di Palu, Jumat.

Kopi robusta merupakan salah satu potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang ada dalam kawasan hutan atau wilayh kerja KPH Sivia Patuju di Kabupaten Tojo Una-una.

Pengelolaan dan pengembangan kopi robusta, KPH Sivia Patuju melibatkan langsung masyarakat di kabupaten itu yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Bukit Kopi.

Kopi robusta KTH Bukit Kopi, difasilitasi oleh KPH Sivia Putuju untuk mengikuti festival kopi yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, berlangsung di ruang terbuka hijau (RTH) Taman Gor, Kota Palu, Jumat.

Di pameran itu, kopi robusta KTH Bukit Kopi dijual seharga Rp40.000/bungkus isi 200 gram untuk kopi robusta bubuk. Sementara untuk kopi robusta non-bubuk/biji dijual seharga Rp30.000/bungkus isi 200 gram.

"Iya, kami memfasilitasi KTH Bukit Kopi untuk mengikuti festival kopi di Palu," kata Firmansyah.

Firmansyah mengatakan, terdapat 100 hektare lahan untuk perkebunan kopi dari luas total wilayah hutan yang dikelola KPH Sivia Patuju seluas 400.000 hektare.

Dari 100 hektare lahan kopi, urai dia, yang telah berproduksi sekitar 60 hektare dengan hasil mencapai kurang lebih sekitar 100 - 200 ton kopi setiap tahun, yang di kelola oleh 20 anggota KTH Bukit Kopi.

"Setiap orang memproduksi kurang lebih sekitar 5 - 7 ton kopi/tahun. Produksi ini bila cuaca atau iklim membaik. Bila cuaca kurang membaik, maka berdampak terhadap hasil produksi petani," katanya.

Firmansyah menjelaskan, dalam program pemberdayaan petani dengan skema pengembangan HHBK jenis kopi tersebut, KPH Sivia Patuju turut serta membantu alat penepung, pengupas, rostik untuk menyangrai biji kopi.

KPH Sivia Patuju mengedepankan pendekatan agroforestri yang secara teknis mengkombinasikan tanaman unggulan seperti kopi robusta dengan tanaman serbaguna seperti pala, durian, alpokat, dan tanaman kayu seperti jabon, agar tanaman kopi tumbuh dan hasilnya sesuai dengan harapan.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Rusli Palabi mengunjungi stand KTH Bukit Kopi dan mencoba langsung kualitas kopi tersebut saat meninjau stand usai membuka secara resmi festival kopi.
kopi robusta sebagai salah satu potensi HHBK di Kabupaten Tojo Una-una, dikelola oleh KTH Bukit Kopi dan KPH Sivia Patuju, di pamerkan dalam festival kopi, di Palu, Jumat. (ANTARA/Muhammad Hajiji)
Kepala KPH Sivia Patuju, Firmansyah berjabat tangan dengan Wakil Gubernur Sulteng Rusli Palabi, di acara festival kopi, di Palu, Jumat. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Pewarta: Muhammad Hajiji
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Petani kopi menuju era revolusi pertanian

Komentar