BPBD Tasikmalaya masih distribusikan air meski kemarau berakhir

BPBD Tasikmalaya masih distribusikan air meski kemarau berakhir

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar. (ANTARA/HO/BPBD Kota Tasikmalaya)

Tasikmalaya (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, masih mendistribusikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak parah kekeringan meski musim kemarau sudah mulai berakhir dengan turunnya hujan sejak beberapa hari.

"Hampir seluruh kecamatan masih meminta bantuan air bersih," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar kepada wartawan di Tasikmalaya, Minggu.

Ia menuturkan, musim kemarau sudah mulai berakhir terbukti selama beberapa hari hujan dengan intensitas rendah sudah turun di wilayah Kota Tasikmalaya.

Namun hujan di Tasikmalaya itu, kata dia, belum membuat sumber air di permukiman penduduk seperti sumur maupun pompa air tersedia airnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga: BPBD: Hujan di Tasikmalaya belum berdampak dalam atasi kekeringan

"Meski hujan, tapi belum ada serapan air ke dalam tanah karena hujannya masih rendah," katanya.

Ia menyampaikan, BPBD akan terus mendistribusikan air bersih untuk masyarakat meski penetapan status darurat kekeringan sudah berakhir 31 Oktober 2019.

Daerah yang masih membutuhkan banyak pasokan air bersih, kata dia, Kecamatan Mangkubumi, Kawalu, Purbaratu, dan Tamansari karena daerah tersebut cukup tinggi terdampak kekeringan di Tasikmalaya.

Ucu menambahkan, selama tanggap darurat kekeringan, BPBD Kota Tasikmalaya telah mendistribusikan enam jutaan liter air bersih atau terjadi peningkatan tiga kali lipat dibandingkan bencana kekeringan tahun sebelumnya yang hanya terdistribusikan 2,3 jutaan liter air.

"Tahun 2018 lalu hanya menyalurkan 2,3 juta liter air sekarang sudah hampir 7 juta liter air," katanya.

Baca juga: Masa siaga darurat kekeringan di Tasikmalaya diperpanjang BPBD

 

Pewarta: Feri Purnama
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wapres sebut pengelolaan limbah manusia belum optimal

Komentar