KAI kaji tarif dinamis untuk kereta api, seperti harga tiket pesawat

KAI kaji tarif dinamis untuk kereta api, seperti harga tiket pesawat

Direktur Utama KAI Edi Sukmoro memberikan keterangan usai konferensi pers Rencana Operasi Natal dan Tahun Baru 2020 di Jakarta, Senin. (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Sedang kita pikirkan apakah itu suitable (cocok) atau memang pantas untuk kereta api
Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia masih mengkaji rencana menerapkan sistem tiket yang disebut pentarifan dinamis atau dynamic pricing seperti yang berlaku untuk tiket pesawat terbang.

"Sedang kita pikirkan apakah itu suitable (cocok) atau memang pantas untuk kereta api," kata Direktur Utama KAI Edi Sukmoro usai konferensi pers Rencana Operasi Natal dan Tahun Baru 2020 di Jakarta, Senin.

Sistem pentarifan dinamis atau dynamic pricing adalah penetapan harga yang didasarkan pada waktu, semakin dekat antara waktu pembelian dengan waktu keberangkatan, maka harga tiket itu semakin mahal.

Edi menjelaskan pihaknya harus mempelajari apakah sistem tiket tersebut sesuai dengan daya beli (willingness to pay) masyarakat pengguna kereta api secara umum.

"KAI adalah public service atau pelayanan publik sedapat mungkin, aman, nyaman, dan juga terjangkau. Itu artinya tiket harus dipikirkan masyarakat bisa membeli," katanya.

Dia mengatakan untuk Natal dan Tahun Baru 2020 ini masih menggunakan sistem tiket yang lama, artinya waktu pembelian tidak berpengaruh kepada harga tiket.

Dalam kesempatan sama, Direktur Niaga KAI Dody Budiawan mengatakan pihaknya akan mempelajari dulu terkait sistem pentarifan dinamis untuk tiket non-PSO.

"Dynamic pricing seperti pesawat terbang belum, kita belum ke sana, kita lagi studi melihat kebutuhan masyarakat seperti apa," katanya.

Dengan sistem pentarifan dinamis, dia menjelaskan bisa mengoptimalkan penjualan tiket sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Lebih optimum karena melihat kebutuhan dengan keinginan yang ada, bukan progresif ya, itu double double. Ini mencari yang optimum sesuai dengan biaya operasi juga, kalau di bawah biaya operasi susah juga," katanya.

Dody mengaku bahwa masyarakat saat ini juga sudah banyak yang meminta kereta eksekutif, contohnya di Bojonegoro dan Ciamis.

"Lihat kebutuhan masyarat apa, beberapa masyarakat minta kereta api eksekutif berhenti (di stasiun), artinya minat maasyarakat naik eksekutif itu tinggi," katanya.

Sebelumnya Direktur Keuangan KAI Didiek Hartanto mengatakan saat ini kecenderungannya daya beli masyarakat semakin meningkat yang berpengaruh pada meningkatnya penjualan kereta api eksekutif.

“Jadi, pola investasi kita bangun sekarang karena ke depan kami mau kereta yang bagus-bagus, yang nyaman, pertumbuhan kereta eksekutif kita paling tinggi, 40 persen sampai November,” katanya.

Baca juga: KAI ubah sejumlah perjalanan kereta api mulai 1 Desember 2019

Baca juga: KAI : 22 dan 29 Desember tanggal favorit pada libur Natal -Tahun Baru




 

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beroperasinya tujuh kereta jarak jauh baru dari stasiun di Jakarta

Komentar