Dokter: Lebih mudah terinfeksi flu daripada HIV

Dokter: Lebih mudah terinfeksi flu daripada HIV

Bincang Media bertema "Mengakhiri Stigma HIV/AIDS: Masyarakat yang Membuat Perubahan" yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dari kiri ke kanan, Asisten Deputi Perlindungan Anak pada Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ciput Eka Purwianti selaku moderator, penyintas HIV Putri Cherry, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nahar, dan Konsultan program Linkages Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAID) dr Hendra Widjaja. (ANTARA/Dewanto Samodro)

Jakarta (ANTARA) - Konsultan program Linkages Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAID) dr Hendra Widjaja mengatakan lebih mudah terinfeksi virus influenza daripada human immunodeficiency virus (HIV) sehingga masyarakat tidak perlu menjauhi orang atau anak dengan HIV/AIDS.

"Influenza bisa menular melalui udara, sedangkan penularan HIV hanya bisa melalui perilaku yang berisiko," kata Hendra dalam Bincang Media yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jakarta, Jumat.

Hendra mengatakan HIV hanya bisa menular melalui darah, cairan kelamin laki-laki maupun perempuan, dan air susu ibu. Penularan HIV melalui cairan-cairan itu pun hanya bisa terjadi bila ada pintu masuk ke dalam tubuh seseorang.

Sedangkan perilaku berisiko yang kemungkinan bisa menyebabkan seseorang tertular HIV adalah penggunaan jarum suntik secara bersama-sama, perilaku seksual yang tidak aman, dan penularan dari ibu hamil kepada anak.

Baca juga: Tren kasus HIV meningkat pada IRT dan pelaku LSL

Baca juga: Jakarta Barat targetkan nol penularan HIV/AIDS pada 2030

Baca juga: Takdir, harapan dan perjuangan ODHA Dhea


"HIV tidak bisa menular melalui air liur. Penularan HIV dari ibu ke anak pun bisa dicegah. Karena itu, stigma dan diskriminasi terhadap orang dan anak dengan HIV/AIDS perlu dihilangkan," tuturnya.

Hendra mengatakan perkembangan dunia medis telah membawa pengobatan HIV pada tingkat yang lebih maju. Seseorang dengan HIV tetap bisa sehat dan bugar selama tetap mengonsumsi obat anti-retroviral (ARV).

"Sudah ada obat untuk HIV yang manjur menekan virus hingga pada tahap yang tidak terdeteksi sehingga tidak akan menular dan kekebalan tubuh orang dengan HIV pulih kembali," katanya.

Pengobatan HIV dengan obat ARV pun semakin sederhana, hanya cukup diminum secara rutin setiap hari. Penelitian terus dilakukan dan Hendra meyakini suatu saat obat HIV cukup disuntikkan sebulan sekali.

Menurut Hendra, pasien dengan HIV/AIDS di rumah sakit kini tidak bisa dibedakan dengan orang tanpa HIV. Selama rutin minum obat dan berolahraga, bahkan pasien dengan HIV bisa memiliki tubuh kekar.

Hendra menjadi salah satu narasumber dalam Bincang Media bertema "Mengakhiri Stigma HIV/AIDS: Masyarakat yang Membuat Perubahan" yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam rangka menyambut Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember.

Selain Hendra narasumber lainnya adalah Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nahar dan penyintas HIV Putri Cherry.*

Baca juga: YPI hilangkan stigma ODHA sebagai beban

Baca juga: YPI konsisten berdayakan ekonomi ODHA sejak 1999

Baca juga: Divonis sebagai ODHA tak halangi Dhea berbagi di Jumat berkah

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ada 46 kasus diskriminasi terhadap ODHA di Yogayakarta

Komentar