BP Jamsostek dituntut inovatif garap pasar milenial

BP Jamsostek dituntut inovatif garap pasar milenial

Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaaan (BP Jamsostek) Puspita Wulandari didampingi Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bali Denpasar Mohamad Irfan dan jajaran dalam peringatan HUT ke-42 BP Jamsostek. (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)

Insan BPJS Ketenagakerjaan harus punya inovasi dan kreasi bagaimana bisa meraih mereka (generasi milenial) untuk bisa gabung dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan
Denpasar (ANTARA) - Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaaan (BP Jamsostek) Puspita Wulandari mengharapkan BPJS Ketenagakerjaan melakukan berbagai upaya inovatif dan kreatif untuk menggarap pasar generasi milenial yang semakin banyak menggeluti bisnis digital.

"Insan BPJS Ketenagakerjaan harus punya inovasi dan kreasi bagaimana bisa meraih mereka (generasi milenial) untuk bisa gabung dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan," kata Puspita saat menghadiri perayaan HUT ke-42 BP Jamsostek di Denpasar, Kamis,

Menurut dia, tidak bisa dipungkiri generasi milenial sekarang lebih senang bekerja di sektor informal, online commerce juga sudah luar biasa, mulai dari menjual hijab, sepatu, buah dan sebagainya.

"Dengan ulang tahun yang ke-42, bukan umur yang main-main lagi karena mendekati 50 tahun. Cita cita mulianya adalah bisa meng-cover seluruh pekerja Indonesia di luar ASN," ucap Puspita.

Baca juga: BP Jamsostek dorong pekerja Informal miliki jaminan sosial

Hingga saat ini, lanjut dia, peserta BP Jamsostek masih didominasi pekerja formal karena untuk menjangkaunya relatif lebih terukur, tinggal masuk ke perusahaan dan bisa mudah menjaring 1.000-2.000 peserta.

"Sedangkan untuk yang informal harus head to head, man to man, dengan pangsa pasar yang besar dan menyebar. Oleh karena itu, dibutuhkan cara yang inovatif, misalnya dengan pendekatan platform, ada unicorn-unicorn seperti Tokopedia, Bukalapak, Gojek, Grab dan sebagainya. Sementara untuk mendekati UKM, bisa berkoordinasi dengan sejumlah kementerian terkait dan BUMN," ucapnya.

Edukasi kepada masyarakat, tambah Puspita, juga memegang peranan yang penting. Tentunya edukasi yang harus benar-benar bersifat inovatif karena harus merambah ke semua wilayah.

"Apalagi untuk daerah dengan keterbatasan jaringan internet, insan BP Jamsostek harus turun langsung melakukan interaksi. Sedangkan untuk kota-kota besar, bisa dijangkau dengan layanan berbasis apps," ujarnya.

Di samping itu, pihaknya mendorong manajemen dan direksi BP Jamsostek untuk menampilkan testimoni atas manfaat yang diterima masyarakat yang telah menjadi peserta BP Jamsostek, karena itu menjadi salah satu keunggulan BP Jamsostek.

Baca juga: BP Jamsostek gandeng LinkAja untuk permudah pembayaran iuran

"Contohnya ada kejadian yang begitu membekas, saat saya mengunjungi Kantor Cabang Kepanjen, di Jawa Timur. Ada tukang bakso yang kecelakaan karena roda gerobaknya patah, lalu menimpa penjual bakso tersebut. Karena sudah menjadi peserta, biaya operasi dan pengobatan tukang bakso itu gratis sampai benar-benar sembuh dan dicover pula uang hariannya sesuai dengan yang berapa dibayarkan," katanya.

Keunggulan lainnya, layanan klaim dari BP Jamsostek yang cukup cepat, sehingga pihaknya sangat mengapresiasi layanan yang sudah semakin dipercepat dan dipermudah itu.

Sementara itu, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bali Denpasar Mohamad Irfan menambahkan, terkait pendekatan pada pekerja informal, telah dilakukan melalui berbagai komunitas di desa-desa, melibatkan pihak pasar, hingga komunitas perajin dan UKM.

"Kita harus melakukan pendekatan yang anti-mainstream, jadi bukan pendekatan hukum, tetapi pendekatan manfaat. Kami sampaikan bahwa dengan premi yang kecil, manfaat yang diperoleh besar. Kami tidak menaikkan iuran, tetapi berusaha menaikkan manfaat," ucap Irfan.

Mengenai bertumbuhnya usaha rintisan, dia tidak memungkiri ada kesulitan untuk mengetahui mereka mempekerjakan berapa orang, padahal aktivitas bisnisnya ada.

Menurut Irfan, sektor informal yang sudah menjadi peserta kurang 10 persen dari jumlah potensi yang ada. "Karakteristik dari sektor informal itu pendapatannya tidak tetap, ada juga yang daya belinya tidak cukup meskipun sangat ingin menjadi peserta, sehingga akhirnya lebih memilih membeli beras dibandingkan ikut BP Jamsostek," katanya.

Oleh karena itu, tambah Irfan, memang diperlukan kerja keras untuk terus menyosialisasikan betapa manfaat besar yang bisa diperoleh menjadi peserta BP Jamsostek.

Rangkaian HUT ke-42 di BP Jamsostek Cabang Bali Denpasar, tak hanya diisi dengan seremonial pemotongan tumpeng, juga dimeriahkan berbagai jenis perlombaan antarkaryawan, di antaranya kuis soal pengetahuan program dan produk-produk BP Jamsostek, balap karung, hingga lomba hias (makeup) suami yang diikuti ikatan istri karyawan, serta pembagian cenderamata dan kupon makanan kepada masyarakat yang mengunjungi BP Jamsostek.

Baca juga: BPJSTK-Kadin pindai 40 persen perusahaan tak ber-Jamsostek
 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar