SEA Games 2019

Timnas U-22 Indonesia versus Vietnam: adu strategi demi mimpi

Oleh Michael Siahaan

Timnas U-22 Indonesia versus Vietnam: adu strategi demi mimpi

Para pemain tim nasional U-22 Indonesia berlatih di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, Senin (9/12/2019), menjelang laga final sepak bola putra SEA Games 2019 kontra Vietnam yang berlangsung keesokan harinya. (Michael Siahaan)

Manila, Filipina (ANTARA) - Laga tim nasional U-22 Indonesia versus Vietnam di final SEA Games 2019 pada Selasa di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, mulai pukul 20.00 waktu setempat atau 19.00 WIB kental dengan nuansa adu strategi.

Situasi adu taktik sudah terasa sejak pertemuan pertama Indonesia dan Vietnam di Grup SEA Games 2019, Minggu (1/12), di mana Indonesia kalah 1-2 setelah pelatih Vietnam Park Hang Seo dengan jitu mematahkan konsep bermain pelatih Indra Sjafri di babak kedua.

Ketika itu, Indra menggunakan taktik yang ampuh menundukkan Thailand dan Singapura di pertandingan sebelumnya yakni bertahan dalam (deep defending), lalu melakukan serangan balik cepat memanfaatkan lesatan dari sisi sayap.

Baca juga: Sepak bola asa terakhir Indonesia jaga marwah di SEA Games 2019

Namun, Park Hang Seo sudah mengetahui hal tersebut. Saat strategi deep defending Indonesia tiba, juru taktik asal Korea Selatan itu langsung menutup sisi sayap dengan ketat dan bermain dengan umpan-umpan pendek akurat demi mengurung Indonesia di pertahanannya sendiri.

Hasilnya, skuat Garuda Muda yang unggul 1-0 sejak babak pertama, kalah 1-2 setelah Vietnam mencetak dua gol di paruh kedua.

“Kami mencoba untuk memancing Vietnam untuk menyerang dan berharap ada counter attack di sana. Namun, percobaan kami selalu gagal,” kata Indra Sjafri usai laga.

Di final sepak bola putra SEA Games 2019, timnas U-22 Indonesia sangat berpotensi menelan kekalahan jika menerapkan strategi yang serupa.

Menghadapi tim sekelas Vietnam, taktik garis pertahanan rendah dapat menjadi bumerang yang melukai diri sendiri.

Indra Sjafri sebagai penentu taktik mau tidak mau harus memutar otak, memikirkan bagaimana memanfaatkan kecepatan di sisi sayap tanpa harus bertahan lebih dalam.

Selain itu, pelatih asal Sumatera Barat tersebut juga bisa saja membuka opsi untuk menyerang dari tengah dan melakukan tendangan jarak jauh. Pemain-pemain seperti Evan Dimas dan Zulfiandi memiliki kualitas operan dan sepakan yang bagus untuk menunaikan tugas tersebut.

Lagipula, Vietnam sudah menyadari bahwa Indonesia sangat bergantung pada serangan dari sisi sayap.

“Indonesia membuat 17 gol di fase grup SEA Games ini, di mana 70-80 persen di antaranya bersumber dari pergerakan di sayap kanan dan kiri. Itu menjadi salah satu perhatian kami dalam persiapan untuk laga final,” kata Park Hang Seo.

Artinya, tanpa ada kreativitas taktik dari Indra, Vietnam akan mampu menyulitkan Indonesia sepanjang pertandingan. Apalagi Vietnam memiliki dua penyerang paling berbahaya di SEA Games 2019, Ha Duc Chinh dan Nguyen Tien Linh.

Baca juga: Sayap timnas U-22 Indonesia dinilai berbahaya oleh Vietnam

Selanjutnya: Tajam
 

Oleh Michael Siahaan
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Timnas sepak bola U-22 resmi dipulangkan ke klub

Komentar