Bamako, (ANTARA News) - Pasukan Mali bentrok dengan pemberontak Tuareg pada akhir pekan sehingga  menewaskan sedikit-dikitnya 25 orang termasuk lima warga sipil, kata kedua pihak dan seorang pekerja bantuan, Minggu.

Kementerian Pertahanan Mali mengatakan, sembilan prajurit dan 11 pemberontak tewas dalam bentrokan Sabtu di dekat pos militer Nampala di wilayah utara negara itu. Menurut kementerian itu, 12 prajurit juga cedera dalam bentrokan tersebut.

Satu sumber yang dekat dengan pemimpin pemberontak Tuareg Ibrahim Ag Bahanga mengatakan kepada AFP sebelumnya, sedikitnya 20 prajurit Mali tewas.

"Di pihak militer, lebih dari 20 orang tewas. Kami menyesalkan hal itu, namun pilihannya adalah mereka atau kami. Sejumlah orang cedera di pihak kami," kata sumber itu tanpa menyebutkan apakah ada pemberontak yang tewas.

Seorang pejabat organisasi bantuan internasional yang tidak bersedia disebutkan namanya dengan alasan "keamanan" mengatakan, paling tidak lima warga sipil tewas dalam insiden tersebut.

"Sedikit-dikitnya lima warga sipil tewas dalam bentrokan Sabtu antara pasukan dan pemberontak bersenjata Tuareg yang menyerang sebuah garnisun di Nampala," kata sumber itu kepada AFP.

"Kami melihat mayat pagi-pagi sekali hari ini dan telah memberi tahu pihak berwenang," katanya.

"Tampaknya pemberontak Tuareg menyerang warga sipil yang mereka pikir prajurit yang berpakaian preman, atau mereka korban dari peluru nyasar," tambah sumber itu.

Dua dari mayat itu, yang mengenakan pakaian sipil, diletakkan di antara prajurit-prajurit berseragam yang tewas, kata pejabat LSM itu.

Ag Bahanga mendesak militer meninggalkan kota berdekatan Tinezawaten. Pasukan pemerintah menolak seruan tersebut dengan mengatakan, daerah itu telah digunakan oleh pengedar narkoba internasional yang menurut mereka berhubungan dengan Ag Bahanga.

Ketika menjawab pertanyaan AFP, seorang pejabat kementerian pertahanan mengaitkan bentrokan Sabtu itu dengan pengedar Narkoba dan mengatakan, pasukan pemerinath mengenali kendaraan-kendaraan yang terlibat dalam insiden tersebut.

Serangan-serangan itu dilakukan sehari setelah Presiden Mali Amadou Toumani Toure mendesak pemberontak Tuareg yang beroperasi di kawasan gurun utara untuk meletakkan senjata dan menyetujui sebuah perjanjian perdamaian baru.

Pemberontak Tuareg menyatukan diri lagi belum lama ini di kawasan pegunungan dekat perbatasan Aljazair dan Mauritania, dan mereka mendesak pemerintah menghormati sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh kedua pihak pada 2006.

Dalam perjanjian itu, pemberontak membatalkan tuntutan mereka bagi otonomi di kawasan Kidal setelah pemerintah berjanji mempercepat pembangunan tiga daerah utara di Mali.

Tuareg adalah penduduk gurun pengembara yang telah berada di Sahara selatan selama berabad-abad. Dalam beberapa tahun terakhir ini mereka meningatkan pemberontakan baik di Mali maupun di Niger dengan menuntut otonomi bagi negeri tradisional mereka.(*)


Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008