Impor bawang putih China, Asosiasi khawatir harga masih sulit ditekan

Impor bawang putih China, Asosiasi khawatir harga masih sulit ditekan

Pedagang membersihkan bawang putih di salah satu kios Pasar Pagi, Tegal, Jawa Tengah, Senin (10-2-2020). Kementerian Pertanian (Kementan) sejak Jumat (7/2) menerbitkan rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) untuk komoditas bawang putih akibat stok bawang putih menipis hingga Februari, yakni sebanyak 65.000 ton, sedangkan rata-rata konsumsi sebesar 47.000 ton per bulan. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/hp.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) Abdullah Mansuri menilai keputusan Pemerintah untuk membuka impor bawang putih dari China akan membuat harga komoditas tersebut masih sulit dikendalikan.

Menurut Abdullah, impor bawang putih dari China dapat menimbulkan psikologi pasar yang bergejolak karena konsumen khawatir isu virus Corona (Koronavirus) yang berasal dari negeri Tirai Bambu tersebut dapat menyebar lewat bawang putih.

"Kami Ikappi memprediksi kalau impor berikutnya masih dari China, harga sulit ditekan seperti normal. Turun mungkin tetapi sulit sampai Rp30.000 per kilogram," kata Abdullah saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Abdullah berpendapat bahwa penurunan harga bawang putih akan sedikit melambat hingga di kisaran Rp38.000 sampai Rp40.000 per kilogram karena kekhawatiran isu Koronavirus yang masih kuat di publik.

Baca juga: Kementan alokasikan Rp220 miliar kembangkan kawasan bawang putih

Baca juga: TPID Jateng gelar inspeksi stabilkan harga bawang putih


Sebagai informasi, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian pada hari Jumat (7/2) telah menerbitkan izin rekomendasi impor produk Hhrtikultura (RIPH) untuk bawang putih sebesar 103.000 ton dari China.

Keputusan membuka impor bawang putih dilakukan karena stok yang kian menipis. Menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga bawang putih Nasional hingga Senin (10/2) sudah mencapai Rp55.300/kg.

Oleh karena itu, Ikappi meminta Pemerintah dapat mendatangkan bawang putih selain dari China dan tidak bergantung hanya pada satu pasar impor. Hal itu bertujuan jika negara tersebut terkena konflik, psikologi pasar dalam negeri tidak terganggu.

Negara-negara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan Laos dapat menjadi alternatif impor bawang putih karena komoditas bawang putih jenis kating yang sesuai dengan konsumen Indonesia.

"Kami merekomendasikan dari Vietnam, Laos, dan sebagainya, negara penghasil bawang putih yang lebih aman dari impor China karena isu terakhir ini menimbulkan psikologi pasar bergejolak," kata Abdullah.

Baca juga: Stok terbatas, harga bawang putih di Bandarlampung terus naik

Baca juga: Pemerintah buka impor bawang putih 103.000 ton dari China

Baca juga: Stok minim, bawang putih impor dijual Rp55.000/kilogram


Di sisi lain, Pemerintah telah menetapkan komoditas berbasis tanaman, termasuk bawang putih tidak dikategorikan sebagai media pembawa Koronavirus. Oleh karena itu, Abdullah meminta agar fakta tersebut harus disampaikan dan disosialisasikan ke publik.

Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian mencatat saat ini stok bawang putih dalam negeri yang masih tersisa sebanyak 70.000 ton. Stok tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sampai Maret mendatang.

"Yang paling penting stok impor sekarang diturunkan ke pasar agar harga ditekan. Kalau stok banyak, saya jamin harga tidak naik. Akan tetapi, kalau harga tinggi dan stok tidak banyak, akan naik terus setiap hari," kata Abdullah.

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bupati Temanggung desak Pemprov Jateng stop impor bawang putih

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar