Anti Hoax

Cek fakta: China berencana bunuh massal pasien virus corona, benarkah?

Cek fakta: China berencana bunuh massal pasien virus corona, benarkah?

Petugas medis dengan pakaian pelindung menerima pasien di Pusat Konferensi dan Pameran Internasional Wuhan, yang diubah menjadi rumah sakit sementara bagi pasien dengan gejala ringan akibat virus novel corona, di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Rabu (5/2/2020). ANTARA/China Daily via REUTERS/wsj/djo/pri.

Jakarta (ANTARA/JACX) - Sebuah artikel berjudul China seek for court’s approval to kill the over 20,000 coronavirus patients to avoid further spread of the virus dipublikasikan oleh situs ab-tc.com dan menjadi isu yang dibahas internasional terkait wabah corona.

Artikel buatan koresponden lokal anonim itu menyatakan Mahkamah Agung China diharapkan menyetujui rencana pembunuhan massal terhadap 20.000 pasien yang terjangkit virus corona di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Artikel tersebut mengklaim rencana "kejam" itu diajukan Pemerintah China demi alasan keamanan, yakni untuk menghalau penyebaran virus mematikan yang telah menewaskan hampir 1.500 orang di dunia hingga Jumat (14/2).

Dijelaskan pula dalam artikel itu, pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit sebenarnya hanya memiliki kematian yang tertunda.

Negara pimpinan Xi Jinping tersebut juga diklaim setidaknya kehilangan 20 petugas kesehatan dalam sehari akibat tertular virus COVID-19.

Tulisan itu menyebutkan pula China dapat kehilangan seluruh warganya, jika beberapa pasien yang terkena dampak tidak mengorbankan nyawa mereka demu menyelamatkan pekerja kesehatan dan satu miliar orang lainnya, menyusul ketiadaan harapan dalam "perang" melawan virus corona.

Benarkah artikel yang menyebut pemerintah China tengah meminta persetujuan mahkamah agung untuk membunuh 20 ribu pasien terinfeksi corona?
 
Tangkapan layar artikel hoaks virus corona (at-bc.com)


Penjelasan:

Penelusuran tim ANTARA melalui mesin pencari memperlihatkan tidak ada tulisan yang memuat informasi sejenis dengan artikel berjudul China seek for court’s approval to kill the over 20,000 coronavirus patients to avoid further spread of the virus hingga Jumat (14/2). 

Dengan kata lain, permintaan Pemerintah China untuk membunuh 20.000 warganya yang terjangkit virus corona, hanya dimuat oleh situs tunggal, yakni at-bc.com.

Namun, situs at-bc.com tidak mencantumkan informasi yang menyebutkan jajaran direksi dan penanggung jawab setiap berita yang dipublikasikan, termasuk nama wartawan serta alamat perusahaan mereka. 

Begitu pula, artikel China seek for court’s approval to kill the over 20,000 coronavirus patients to avoid further spread of the virus hanya menerangkan bahwa tulisan tersebut dibuat oleh koresponden lokal, tanpa adanya nama maupun penyunting.

Ditelusuri lebih jauh, beberapa situs pencari fakta di beberapa negara, seperti snopes.com yang berbasis di Amerika Serikat dan factcheck.afp.com, menyatakan situs at-bc.com memiliki jejak rekam buruk, karena sebelumnya juga pernah mempublikasikan artikel berisi kabar bohong atau hoaks.

Salah satunya adalah tulisan berjudul "BREAKING NEWS: Prince Andrew has committed suicide". 

Artikel itu menyebut Pangeran Andrew yang merupakan putra Ratu Inggris, Elizabeth II bunuh diri di kamar mandinya tanpa meninggalkan catatan.

Dari beberapa fakta tersebut, bisa disimpulkan bahwa artikel berjudul China seek for court’s approval to kill the over 20,000 coronavirus patients to avoid further spread of the virus merupakan informasi buatan yang menyesatkan dan termasuk hoaks.

Klaim: China minta persetujuan pengadilan bunuh 20.000 pasien virus corona
Rating: Salah/Hoaks

Cek fakta: Orang kaya di Wuhan menghamburkan uang karena stres?

Cek fakta: Benarkah tujuh orang penumpang Lion Air terinfeksi corona?

Pewarta: Tim JACX
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pasien di RSUD Babel negatif terjangkit virus Covid-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar