Laporan dari Seoul

Kabar buruh Indonesia di pusat corona Korea Selatan

Kabar buruh Indonesia di pusat corona Korea Selatan

Suasana terminal utama kota Gwangju, di area tunggu bus menuju Daegu, pusat penyebaran virus corona di Korea Selatan, pada Minggu (23/2/2020). (GM Nur Lintang)

Gwangju (ANTARA) - Sejumlah buruh asal Indonesia di Daegu, kawasan selatan Korea Selatan, mengaku masih harus bekerja meski kota tersebut sudah menjadi pusat penyebaran utama virus corona, demikian cerita dua buruh pada Minggu (23/2) malam.

"Pada umumnya, para buruh di Daegu tinggal di asrama dekat pabrik yang disediakan oleh perusahaan sehingga kontak dengan penduduk kota yang meningkatkan risiko corona bisa diminimalkan," kata seorang buruh produsen plastik di Daegu, Erik Priana, melalui telepon. 

Erik menceritakan bahwa banyak pemimpin pabrik di Daegu yang meminta para buruh untuk tidak keluar dari asrama dan mengunjungi pusat kota selama satu bulan terakhir. Perusahaan tempat Erik bekerja bahkan menyediakan layanan titip belanja kepada para buruh yang membutuhkan bahan makanan.

Namun, Erik sempat "mencuri waktu" untuk mengunjungi pusat kota pada akhir pekan itu. Dalam pantauannya, sudut-sudut yang biasa ramai kini sepi, toko-toko tutup sementara apotek tidak beroperasi.

"Restoran-restoran Indonesia di sini sangat berkurang pengunjungnya," kata dia.

Selain masih harus bekerja, buruh migran Indonesia di Daegu harus kehilangan sebagian penghasilan karena banyak produk pabrik di kota tersebut yang tidak bisa diekspor karena kekhawatiran dunia internasional terhadap wabah corona.

"Karena pesanan berkurang, maka jam kerja juga berkurang. Upah pun turun tajam," kata dia.

Baca juga: Presiden Korsel minta ekonomi dipulihkan dari wabah corona

Keadaan serupa diungkapkan oleh Daffi Syahputra, yang sudah bekerja selama hampir tiga tahun untuk produsen knalpot pemasok Hyundai di Daegu. Daffi juga harus berangkat bekerja pada Senin.

"Selama ini saya hanya keluar kos untuk berangkat kerja dan keperluan mendesak," kata dia.

"Pabrik-pabrik di Daegu memang sangat perhatian mengenai corona karena ini menyangkut keselamatan bisnis mereka," kata pria berusia 23 tahun asal Jakarta itu.

Jika ada satu saja buruh yang terindikasi terjangkit Covid-19,  pabrik tempat dia bekerja harus berhenti beroperasi selama satu pekan untuk disterilkan. Tentu saja pabrik akan rugi,  ujar Daffi.

Daegu dalam tiga hari terakhir mengalami lonjakan pasien wabah corona. Dalam hitungan hari, ratusan pasien baru yang positif terjangkit COVID-19 bermunculan.

Hingga Senin pagi waktu setempat, pasien wabah corona di seluruh Korea Selatan bertambah 161 orang dari hari sebelumnya menjadi 763. Semua tambahan kasus itu berasal dari Daegu.

Baca juga: Penderita corona jadi 156 orang, Korsel bikin zona perawatan
   

Menkopolhukam pastikan WNI kru kapal pesiar segera dipulangkan

Pewarta: GM Nur Lintang Muhammad
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar