Huawei catatkan 91 kontrak 5G komersial

Huawei catatkan 91 kontrak 5G komersial

Executive Director of the Board, sekaligus President Carrier BG Huawei, Ryan Ding, saat peluncuran jajaran produk dan solusi 5G terbaru Huawei di London, Senin (24/2/2020). (HO/Huawei)

Jakarta (ANTARA) - Executive Director of the Board, sekaligus President Carrier BG Huawei, Ryan Ding, mengungkapkan hingga saat ini Huawei telah memiliki 91 kontrak 5G komersial.

"Huawei berhasil mencatatkan 91 kontrak 5G komersial. Huawei juga telah mengapalkan lebih dari 600.000 antena 5G Massive MIMO Active Antenna Units (AAUs)," ujar Ryan Ding saat peluncuran jajaran produk dan solusi 5G terbaru Huawei, seperti dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Ryan Ding menyampaikan bahwa perkembangan 5G saat ini telah mencapai babak baru yang melampaui ekspektasi semua kalangan, terutama terkait dengan dengan kian massifnya penggelaran, pertumbuhan ekosistem yang pesat, hingga dihadirkannya pengalaman-pengalaman baru di ranah 5G.

Huawei berkomitmen dalam mengembangkan solusi end-to-end 5G terbaik, dari BTS 5G yang mampu mendukung seluruh skenario 5G, hingga produk Blade AAU yang punya kapabilitas integrasi mumpuni.

Blade AAU mampu menjangkau seluruh pita frekuensi sub-6 GHz dan mendukung teknologi jaringan 2G, 3G, 4G, hingga 5G. Dengan Blade AAU terbaru, keterbatasan tempat untuk pemasangan antena bukan lagi menjadi masalah.

Selain itu, biaya total kepemilikan (TCO) bisa dipangkas hingga lebih dari 30 persen dibandingkan dengan solusi-solusi lain yang ada di pasaran saat ini. Huawei juga mengklaim menjadi vendor pertama di industri yang mampu menghadirkan modul 5G untuk aplikasi-aplikasi vertikal di industri.

"Teknologi 4G memungkinkan manusia dalam berbagi video maupun terhubung melalui sambungan suara. Namun kini, 5G hadir dengan menghadirkan bandwidth ultra tinggi, sehingga mendukung disajikannya pengalaman AR dan VR yang begitu nyata," ujar Ryan Ding.

Huawei melihat, semakin matangnya teknologi 5G enhanced mobile broadband (eMBB) serta tingginya layanan video HD telah mendorong pesatnya pertumbuhan layanan 5G untuk B2C, yang juga menjadi ceruk potensi yang besar di layanan 5G untuk B2B.

Dalam perhelatan tersebut, Huawei bersama sejumlah operator mengumumkan peluncuran buku putih 5G terbaru, di samping komitmen mereka untuk mempererat kemitraan dalam melakukan eksplorasi terhadap beragam penerapan 5G di ranah B2B di beragam lini industri.

Ryan Ding juga memanfaatkan kesempatan itu untuk memamerkan produk Huawei live broadcast backpack yang diluncurkan belum lama ini. Huawei membenamkan modul 5G ke dalam produk tersebut untuk tayangan siaran langsung.

Ryan Ding menekankan, bahwa di era 4G lalu, seluruh operator secara virtual menyuguhkan pengalaman jaringan yang tak jauh berbeda antara satu dengan yang lain, namun hal itu berbeda dari era 5G.

Baca juga: Huawei dukung keputusan GSMA batalkan MWC 2020

Baca juga: Huawei sambut keputusan Inggris soal "roll-out" 5G


Saat ini, operator telah mampu menghadirkan pengalaman terdiferensiasikan bagi tiap-tiap pelanggan. Perhitungan biaya kepada pelanggan juga lebih didasarkan pada ukuran meteran, seperti volume data yang terpakai, besaran latensi, pita lebar, hingga jumlah perangkat yang terkoneksikan.

"Ini mendukung operator dalam monetisasi teknologi 5G secara lebih optimal. Perlu perombakan ulang strategi dengan memperhitungkan apa yang sesungguhnya hendak mereka capai dengan membangun model-model bisnis 5G yang baru tersebut," kata Ryan Ding.

Dalam kesempatan tersebut, Ryan Ding juga mengumumkan digelarnya 5G Partner Innovation Program, sebagai bentuk komitmen Huawei dalam mendukung terwujudnya ekosistem 5G serta kesuksesan implementasi 5G secara komersial di seluruh dunia.

Program terserbut digulirkan untuk mengembangkan beragam proyek 5G bagi beragam domain industri, seperti untuk media-media arus baru masa kini, di kampus-kampus, di bidang kesehatan, maupun pendidikan.

Melalui program ini, Huawei berkomitmen untuk menggelontorkan investasi senilai 20 juta dolar AS bagi aplikasi-aplikasi 5G inovatif dalam jangka lima tahun ke depan.

Kerja sama ini diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya ekosistem 5G, serta mempercepat suksesnya komersialisasi 5G di seluruh dunia.

Baca juga: Google tak bisa dipakai di ponsel Huawei, ini penjelasannya

Baca juga: Huawei: Virus corona tak berdampak pada pasokan 5G

Baca juga: Huawei pastikan pasokan 5G tak terdampak virus corona

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Suspect di RSPI Sulianti Saroso negatif nCov

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar