Wall Street tumbang setelah AS duduki peringkat teratas dunia COVID-19

Wall Street tumbang setelah AS duduki peringkat teratas dunia COVID-19

Seorang pialang Wall Street berekspresi saat melihat pergerakan harga saham di layar bursa New York Stock Exchange (NYSE) di New York, Amerika Serikat (20/3/2020). ANTARA/REUTERS/Lucas Jackson/aa.

Sejumlah orang Amerika secara mengejutkan mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu karena wabah Virus Corona telah menutup banyak kegiatan usaha
New York (ANTARA) - Saham-saham di Wall Street merosot jauh lebih rendah pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), di tengah penyebaran Virus Corona yang berkembang dengan cepat di negara itu.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 915,39 poin atau 4,06 persen, menjadi berakhir di 21.636,78 poin. Indeks S&P 500 jatuh 88,60 poin atau 3,37 persen, menjadi ditutup di 2.541,47 poin. Indeks Komposit Nasdaq kehilangan 295,16 poin atau 3,79 persen, menjadi berakhir di 7.502,38 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 diperdagangkan lebih rendah, dengan sektor energi terpuruk 6,93 persen, menjadi kelompok berkinerja terburuk. Sementara sektor utilitas naik 0,53 persen, satu-satunya yang berhasil mencatat kenaikan di antara sektor-sektor.

Baca juga: Harga emas jatuh 26 dolar, dipicu khawatir pasokan fisik logam mulia

Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia pada Kamis sore (26/3/2020) waktu AS bagian Timur, menurut Johns Hopkins University.

Pada Jumat (27/3/2020) pukul 14.00 waktu AS bagian Timur (1800 GMT), ada 94.238 kasus yang dikonfirmasi di Amerika Serikat, dengan 1.438 kematian, data dari Center for Systems Science and Engineering menunjukkan.

Sejumlah orang Amerika secara mengejutkan mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu karena wabah Virus Corona telah menutup banyak kegiatan usaha.

Baca juga: Dolar AS melemah tajam, alami penurunan mingguan terbesar sejak 2009


Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, tercatat mencapai 3.283.000 dalam pekan yang berakhir 21 Maret, meningkat 3.001.000 dari tingkat revisi pekan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja melaporkan Kamis (26/3/2020). Jumlah ini dengan mudah menghancurkan rekor kenaikan sebelumnya 695.000 pada Oktober 1982.

Menyusul persetujuan Senat awal pekan ini, Dewan Perwakilan AS pada Jumat (27/3/2020) meloloskan paket stimulus COVID-19 senilai dua triliun dolar AS melalui pemungutan suara, mengirimkannya kepada Presiden Donald Trump untuk ditandatangani.

RUU itu, yang bertujuan melindungi ekonomi dari kerusakan COVID-19, akan memberikan pinjaman darurat kepada usaha kecil, keringanan pajak bisnis, tunjangan pengangguran yang diperluas, pembayaran langsung 1.000 dolar plus untuk pekerja Amerika, bantuan pemerintah untuk industri seperti maskapai penerbangan dan hotel, serta lebih banyak dukungan untuk rumah sakit dan pemerintah negara bagian dan lokal.

Baca juga: Harga minyak anjlok 5 persen, bukukan kerugian mingguan ke-5 beruntun

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden buka perdagangan perdana, IHSG menguat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar