Wall Street merosot, dipicu kehilangan pekerjaan besar-besaran di AS

Wall Street merosot, dipicu kehilangan pekerjaan besar-besaran di AS

Seorang pialang menyaksikan pidato presiden Amerika Serikat Donald Trump di layar televisi tentang langkah strategis pemerintahannya dalam menangani wabah COVID-19 di lantai bursa New York Stock Exchange, Amerika Serikat (20/3/2020). ANTARA/REUTERS/Lucas Jackson/aa.

Perubahan dalam langkah-langkah ini mencerminkan efek dari Virus Corona dan upaya untuk menahannya
New York (ANTARA) - Saham-saham di Wall Street merosot pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah ekonomi terbesar di dunia merilis laporan ketenagakerjaan yang suram untuk Maret, menunjukkan kehilangan pekerjaan besar-besaran di tengah pandemi Virus Corona baru atau COVID-19.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 360,91 poin atau 1,69 persen, menjadi ditutup di 21.052,53 poin. S&P 500 berkurang 38,25 poin atau 1,51 persen, menjadi berakhir 2.488,65 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 114,23 poin atau 1,53 persen, menjadi 7.373,08 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan sektor utilitas jatuh 3,62 persen, memimpin kerugian. Sementara sektor bahan pokok konsumen naik 0,54 persen, satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan di antara kelompok lainnya.

Pengusaha-pengusaha Amerika Serikat memangkas 701.000 pekerjaan pada Maret, dan tingkat pengangguran melonjak menjadi 4,4 persen, menunjukkan penurunan pekerjaan pertama dalam satu dekade, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (3/4/2020).

Baca juga: Dolar menguat dalam 3 hari beruntun, abaikan data suram pekerja di AS

"Perubahan dalam langkah-langkah ini mencerminkan efek dari Virus Corona dan upaya untuk menahannya," kata biro tersebut.

Tingkat pengangguran naik 0,9 poin persentase menjadi 4,4 persen, merupakan kenaikan terbesar selama sebulan sejak Januari 1975, kata laporan itu.

"Laporan ketenagakerjaan Maret memperkirakan angka 'sebelum'. Penguncian atau lockdowns wajib semua mulai berlaku setelah survei," kata Kepala Ekonom FHN Financial, Chris Low, dalam sebuah catatan pada Jumat (3/4/2020) ketika mengomentari data pekerjaan AS yang baru dirilis.

Baca juga: Harga emas terangkat 8 dolar, dipicu data suram pekerjaan di AS

Data pekerjaan muncul setelah sebuah laporan menunjukkan lonjakan sejumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu.

Dalam pekan yang berakhir 28 Maret, klaim pengangguran awal AS mencapai 6.648.000, Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan Kamis (2/4/2020). Angka tersebut dengan mudah melampaui 3,3 juta klaim pengangguran awal yang diumumkan seminggu sebelumnya, yang pada saat itu merupakan jumlah terbesar yang pernah tercatat.

Jumlah kasus COVID-19 di Amerika Serikat telah mencapai 266.000 pada Jumat sore (3/4/2020), dengan lebih dari 6.900 kematian, menurut Pusat Sains dan Teknik Sistem (CSSE) di Universitas Johns Hopkins.Baca juga: Rupiah akhir pekan menguat terbawa naiknya harga minyak

Baca juga: Harga minyak melonjak lagi, ditopang harapan pemotongan produksi


 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden buka perdagangan perdana, IHSG menguat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar